Not My Own


ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN PEMBANGUNAN  PLTA PAMONA 2

Aspek Teknis
Lokasi

PT   Poso  Energi   berencana   membangun   PLTA  Pamona-2   dengan   kapasitas terpasang  sebesar  3 x    65 MW  di  Pamona,  Kabupaten  Poso. Lokasi  PLTA  Pamona-2 terletak di desa  Sulewana, Kecamatan  Pamona Utara Kabupaten  Poso, Propinsi Sulawesi Tengah.  Secara   geografis,   lokasi  PLTA   Pamona-2  terletak   pada  posisi   0q10c-3q40c Lintang  Selatan,  dan  120derajat10'-123derajat23'  Bujur  Timur.  Berikut  ini  ilustrasi  lokasi  PLTA Pamona-2:

Gambar 4.1a
Lokasi PLTA Pamona-2

Sumber : PT. Poso Energy

Untuk  mencapai  lokasi  dapat  ditempuh  dengan  kendaraan  roda 4  (empat)  dariKota Palu,  Ibukota Propinsi Sulawesi  Selatan ke Kota Poso  dengan jarak 225  km selamar6 jam perjalanan  dan dari Kota Poso  ke Desa Sulewana dapat  ditempuhr  1 jam dengan
jarak tempuh r52 km. Selanjutnya  dari Desa  Sulewana ke  lokasi bangunan  utama (weir
site) dapat dicapai melalui akses  jalan yang telah dibangun dengan lebar + 8  m.
Sedangkan  untuk  lokasi  di  bagian hilir  dapat  ditempuh  dari  Kota  Poso  ke  Desa
Tempemadoro,  Kecamatan Lage  dengan kendaraan  roda 4  di atas jalan  beraspal dengan
jarak r30 km  dalam  waktu  tempuh 0,5  jam.  Kemudian  dilanjutkan  dengan  jalan  kaki
lewat jalan setapak sejauhr5   km dengan waktu tempuh r2 jam perjalanan.

Gambaran Umum Lokasi

PLTA Pamona  terletak di  Sungai Poso yang  pada bagian hulunya  terdapat danaualam yang  besar  (Danau Poso)  dengan luas  permukaan  danau r362 km2 pada muka  airnormal  serta  mempunyai  luas  daerah  tangkapan  hujan  (Catchment  area) r 1.340  km2dengan sungai-sungai kecil  yang mengelilingi danau.

Danau Poso yang  terletak di Sulawesi Tengah  merupakan salah satu  dari dua danauyang  besar  setelah  Danau  Towoti  di  Sulawesi  Selatan.  Danau  Poso  mempunyai   luastangkapan hujan  sekitar 1.340  km2 yang terdiri  dari arah  anak sungai kecil  mengelilingiDanau. Elevasi  muka air  yang cukup  tinggi (515  m), maka  secara topografi  sangat baikuntuk Pusat Pembangkit Listrik.

Outlet Danau  terletak di sebelah  Utara dan mengalir  melalui Sungai Poso  melewatiKota  Poso sebelum  ke  laut.  Lebar  sungai mula-mula  lebar  dan  menyempit  pada  jarakkurang lebih  12  km dari Outlet  Danau  dan kemiringan  dasar sungai  semakin  tajam danaliran air  menjadi cepat.  Antara lokasi  bendung PLTA  Pamona-2  dengan Power  House,dasar sungai menjadi datar  sampai di laut.

Kondisi Seismologi

Berdasarkan   SNI    1726-2002   mengenai   standar   design    resistensi/ketahananbangunan  terhadap gempa  yang memuat  peta  pergerakan tanah,  diketahui  bahwa lokasiPLTA  Pamona  berada  pada  zona  5  gempa  bumi.  Berikut   ini  adalah  peta  seismic  diIndonesia




Gambar 4.2
Peta seismilk Indonesia

Sumber : PT.Poso  Energy

Pada zona ini  pergerakan tanahnya adalah  0,25 g (g =  9,8 m/s2) dalam siklus  500tahun.  Dengan  mengambil   durasi  daya  tahan  bangunan  adalah  selama  50   tahun  dankemungkinan  terjadinya   gempa  bumi  dengan  pergerakan  tanah  sebagaimana   tersebutdiatas atau  lebih adalah  9,5% maka  berdasarkan  SNI 176-2002,  parameter design  untukketahanan  bangunn  atas  kekuatan  gempa   direkomendasikan    untuk  menambah  factorkeselamatan, minimum 1,4 kali.  Sehingga koefisien sismik yang diterapkan  adalah 0,35g.

Aspek Ketersediaan Air

PLTA  Pamona-2  memanfaatkan  aliran  air  sungai  Poso.  Dalam  aspek  ini  akandibahas  mengenai  kondisi  sungai  poso  serta  ketersediaan  debit  air  sungai  Poso  yangsangat  menentukan  operasional  PLTA  Pamona-2  nantinya.  Analisis  terhadap  debit airdanau  Poso beserta  analisis  hidrologi lainnya  bersumber  pada laporan  Studi  Kelayakanteknis PLTA Pamona-2.

Kondisi Topografi

PLTA Pamona  terletak di  Sungai Poso yang  pada bagian hulunya  terdapat danaualam yang  besar  (Danau Poso)  dengan luas  permukaan  danau r362 km2 pada muka  airnormal serta mempunyai luas  daerah tangkapan hujan (Catchment area)r   1.340 km2 .
Secara umum  kondisi topografi  di bagian  hulu (Selatan)  adalah  perbukitan terjaldan  bagian  hilir   melebar  ke  arah  Barat-Utara   berupa  dataran  rendah   hingga  pantai.Kemiringan rata-rata  Sungai Sadang  adalahr0,010  (sepuluh  permil) yang  diperoleh dariperbedaan  elevasi  muka  air  normal  (NWL)  keluaran  Danau  Poso r511,21m terhadapmuara sungai di pantai Poso  dengan jarakr50km.

Dilihat dari bentuknya,  kondisi topografi di sepanjang  aliran sungai, dari keluaranDanau Poso adalah  daerah lembah dengan  bentuk relatif datar  sampai pada jarakr12   kmke  arah hilir  (Poso-1),  selanjutnya  berubah menjadi  cekungan  curam  yang  membentukcelah terjal  (bentuk huruf V)  hingga di  muara.  Volume  efektif danau diperkirakan  lebihbesar dari  700 x  106 m3  pada elevasi  muka air  normal (r511,  21 m) di  atas permukaanlaut disertai  dengan bentuk topografi  yang relatif curam  hingga dataran pantai  (r50 km).Kondisi ini sangat potensial  untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga  air.

Berdasarkan hasil survai  topografi, elevasi dasar sungai pada  lokasi bendung yangdirencanakan  (alternatif Poso-3)  adalahr264,17  m  dan elevasi  keluaran pada pembuangakhir (tailrace)r20,90   m, dan lokasi  keluaran alternatif  yang lain +26m, sehingga  tinggijatuh (head) diperkirakanr250   m.

Danau  Poso  yang  terletak  di  Sulawesi  Tengah  merupakan  salah  satu  dari  duadanau  yang besar  setelah  Danau  Towoti  di Sulawesi  Selatan.  Danau  Poso mempunyailuas   tangkapan  hujan   sekitar   1271   km2  yang   terdiri   dari  arah   anak   sungai  kecilmengelilingi Danau.  Elevasi muka air  yang cukup tinggi  (515 m), maka  secara topografisangat baik untuk Pusat Pembangkit  Listrik.

Outlet   Danau  terletak   di  sebelah   Utara   dan  mengalir   melalui   Sungai  Posomelewati Kota Poso  sebelum ke laut. Lebar  sungai mula-mula lebar dan  menyempit padajarak kurang  lebih 12 km  dari Outlet Danau  dan kemiringan  dasar sungai semakin  tajamdan aliran air menjadi cepat.




Gambar 4.3
Kondisi Aliran Sungai di Lokasi PLTA Pamona-2


Kondisi Geologi

Kondisi   geologi  regional   daerah   studi,   diperoleh  berdasarkan   Peta   GeologiLembar Poso,  skala 1  : 250.000  yang disusun  oleh T.O.  Simanjuntak et  al, DepartemenPertambangan  dan   Energi-Dirjen  Geologi  dan   Sumber  Daya  Mineral-P3G,   Bandung1991.

1.   Fisiografi
Secara morfologi,  daerah  yang tercakup  pada Peta  Lembar Poso  dapat dibagi  kedalam 5  satuan  morfologi :  dataran rendah,  perbukitan,  dataran tinggi,  pegunungan danperbukitan karst.

·         Dataran  Rendah menempati  daerah  sekitar sungai-sungai  yang  ada yaitu  SungaiPuna,  Sungai   Poso,  Sungai  Sumara,   Sungai  Morowadi,  Sula   di  Utara  TelukTomori,   daerah   sekitar  Taripa   dan   sekitar   Tomata.   Satuan  ini   mempunyaiketinggian  antara  nol  sampai  puluhan  meter  di  atas  muka  air  laut.  Satuan  inimerupakan daerah pemukiman  dan pertanian.
·         Perbukitan  terdapat  di  bagian   Utara  dan  Tengah-Selatan  lembar   peta.  BagianUtara  membentang  dari Taripa  ke  Timur  sampai  Peura. Satuan  ini  mempunyaiketinggian antara 200 m  sampai dengan 600 m di atas elevasi muka air  laut.



·         Dataran  Tinggi yang  terpisah-pisah terdapat  di  bagian Barat,  Tengah dan  TimurLembar  Poso. Bagian  Barat  antara  lain di  Gintu,  Doda, Wuasa,  Sadoa,  Palopo,Rulani, Toro,  Labua, Hulu  Sungai Sopa dan  sekitar Danau  Lindu. Bagian  tengahmerupakan  daerah pada  jalur tepi Barat  dan Utara  Danau Poso,  Timur  di daerahBau. Satuan ini  mempunyai ketinggian lebih  dari +600 m di atas  elevasi muka airlaut. Umumnya merupakan daerah  pertanian dan pemukiman.
·         Satuan Pegunungan  menempati  daerah terbesar  dari Lembar  Poso, terdapat  padaPegunungan  Tokolekaju, Timeba  dan Tokodoro.  Satuan ini  rata-rata mempunyaiketinggian antara +700 m  sampai dengan +2.835 m di atas elevasi muka air  laut.
·         Satuan  Perbukitan  Karst  ini menempati  bagian  tengah  dan timur  Lembar  Poso.Bagian tengah  memanjang dari Poso  sampai Kota  dana dan dari  dekat Malino keSelatan  sampai Beteleme.  Di bagian  Timur  Satuan Karst  berkembang  setempat-setempat  seperti  di  Gunung  Tamisari,   Betawa,  Tongku,  serta  di  Hulu  SungaiTongku.  Daerah  Karst  ini  dicirikan  oleh  permukaan   yang  kasar,  lereng  tajamdengan dolina lubang.

2.   Stratigrafi
Kondisi  stratigrafi  regional  daerah  penelitian  dan  sekitarnya  atau  di  sepanjangSungai  Sadang  secara umum  dapat  dipisahkan  menjadi  6  satuan. Berdasarkan  gambarPeta  Geologi Lembar  Poso  oleh T.O.  Simanjuntak  dkk,  1991, P3G  Direktorat  GeologiBandung. Berikut ini susunan  stratigrafi regional berurutan dari yang berumur  tua :

·         Satuan Komplek Pompangeo
Satuan  ini tersusun  atas  sekis granit,  filit,  sabak,  genis, serpentinit  dan  kwarsit,batu  gamping   malih   dan  breksi   setempat.  Batuan   ini  banyak   dijumpai   dantersingkap  di  sekitar  daerah  Perbukitan  Bagian  Barat  dan  Timur  Danau  Poso.Satuan batuan ini diperkirakan  berumur Kapur Pliosen.
·         Satuan Batugamping Malih
Satuan  ini   tersusun  atas   pualam,  batugamping   terdaunkan/foliated   limestone.Satuan   batuan   ini   saling   menjemari   dengan   Satuan   Komplek   Pompangeo,tersingkap  di sekitar daerah  Perbukitan  Bagian Barat  dan Timur  keluaran DanauPoso serta  di sekitar daerah Batononcu.  Satuan ini  diperkirakan berumur Kapur  –Pliosen.



·         Satuan Formasi Poso
Satuan  ini  tersusun  atas  batugamping   terumbu,  konglomerat  batupasir  dengansisipan napal.  Sebagian satuan  batuan ini umumnya  terdapat di  Sepanjang AliranSungai  Sadang dan  menumpang secara  tidak selaras  di  atas Batugamping  Malihdan Komplek Pompangeo. Batuan  ini berumur Pliosen sampai Pleitosen.
·         Satuan Formasi Puna
Satuan   ini   tersusun   atas   batupasir,   konglomerat,   batulanau   dengan   sisipanlempung.  Satuan batuan  ini  saling  menjemari dengan  batuan  Formasi  Poso danterdapat  di  Sepanjang   Aliran  Sungai  Sadang   sampai  ke  sebelah  Barat   TelukTomini. Satuan  ini diperkirakan  berumur Pliosen.
·         Satuan Endapan Danau
Satuan ini  tersusun atas lempung,  pasir dan kerikil.  Satuan ini umumnya  terdapatdi  sekitar   Danau  Poso  terutama   di  sekitar   keluaran  Danau   Poso  yaitu  padaTentena.
·         Aluvial
Satuan  ini  tersusun atas  Lumpur,  lempur  pasir,  kerikil  dan  kerakal.  Batuan iniumumnya terdapat di sepanjang  sungai.

3.   Struktur dan Tektonik
Analisis  terakhir  tentang   tektonik  di  Sulawesi  disetujui  dengan   menggunakanteori Tektonik  Lempeng  (Sukamto, 1975,  Sukamto dan  Simanjuntak 1982,  Simanjuntak1980,  1986)  yang  menyatakan   bahwa  Geologi  Lembar  Poso  memperlihatkan tempatpertumbukan 3 (tiga) Mandala  Geologi.
Batuan  ultramafik  dan mafik  dianggap  berasal  dari  Lempeng  Kerak Samudera.Batuan  ini bersama-sama  Sedimen  Pelagas Mesozoikum  dikelompokkan  menjadi  LajurOfiolit   Sulawesi   Timur.    Lajur   ini   bersama   Lajur    Metamorfik   Sulawesi   Tengahmembentuk  Mandala   Geologi  Sulawesi  Timur,   Manala  Gelogi  Sulawesi   Barat  yangterdisi  dari Pinggiran  Benva  dan  Busur  Gunung api  Sundaland  yang  diwakili  FormasiLatimojong  (Akhir   Kapur)  dan   Batuan  Alas   serta  Batuan   Gunungapi  dan   PlutonikTersier.  Besar  Banggai  Sula  diwakili  oleh Sedimen  Pinggiran  Benva  berumur  Tersierhingga Pliosen.
Jenis  sesar yang  dapat  dikenali ialah  sesar  sungkup, sesar  turun  (Normal Fault)dan  sesar jurus  (Horizontal  Fault)  mendatar.  Sistem Sesar  Palu  Koro  merupakan sesarutama berarah Barat  Laut-Tenggara dan menunjukkan  gerakan mendatar-mengiri,  didugasesar  ini  masih  hidup  sampai   sekarang  (Tja,  1973,  Ahmar,  1975).  Sesar   ini  bersatudengan  Sesar Matano  di  Lembar Malili  (Simanjuntak,  dr, 1982).  Sesar  Poso dan  SesarWakuli merupakan sesar naik  dan berarah ke Utara-Selatan.




Kondisi Meteohidrologi

PLTA Pamona  terletak  di Sungai  Sadang yang  memanfaatkan keluaran  debit airDanau Poso.  Sungai Sadang mengalir  dari arah Selatan  berawal di Keluaran  Danau Posoke arah  Utara  menuju  Teluk Tomini.  Secara  umum daerah  ini mempunyai  iklim  tropisyang  dicirikan  dengan  curah  hujan cukup  berkisar  antara  2.500  mm    3.800  mm pertahun, dengan musim hujan  8 bulan dalam setahun.
Suhu  udara  relatif  konstan  dari  waktu  ke  waktu  berkisar  antara  21,9q  sampai32,7qC.  Sedangkan  kelembaban  udara  rata-rata  berkisar  antara  71%  -87%.  Kecepatanangin rata-rata  di  sekitar daerah  proyek berkisar  antara 1  sampai  4 knot,  dan kecepatanangin  rata-rata  tertinggi  terjadi  pada  bulan  Agustus  dengan  tingkat  kecepatan  4 knot.Sedangkan  kecepatan angin  maksimum  mencapai 20  knot dengan  arah angin  terbanyakbertiup dari arah Timur Laut  sekitar 45q dan hanya pada bulan Agustus arah  angin bertiupdari sekitar 180q.
Luas  daerah  aliran  sungai  di  lokasi   proyek  termasuk  besar,  mengingat  lokasirencana   PLTA Pamona-2  yang terletak  di hilir Danau  Poso. Luas  permukaan genanganDanau  Poso r    362  km2  dengan  daerah  tangkapan  hingga   lokasi  keluaran  danau  diTentena r1.340  km2. Sedangkan  luas  daerah aliran  hingga lokasi  rencana pengambilanPLTA Pamona-2+-612 km2  .

Kondisi Danau Poso

Danau Poso merupakan danau  terbesar kedua di pulau Sulawesi, yang  mempunyaidaerah tangkapan  air seluas 1.755 km2,  dengan luas genangan rata-rata  366 km2 . Danauini  merupakan  danau  alam.  Tampungan   air  danau  dapat  diatur  untuk  pengembanganPLTA di sepanjang sungai  Poso.
Dengan topografi  yang  ada, daerah  di sekitar  danau bagian  hulu terdapat  daerahyang  cukup  landai, dan  sebagian  lagi  merupakan  daerah  yang cukup  terjal.  Dari  hasilpengukuran  bathymetri  dan  topografi  disekitar  danau  yang  dilaksanakan  selama  studiberlangsung  telah   dapat  dibuat  grafik  hubungan   antara  elevasi  terhadap  luas   daerahgenangan  dan  volume  danau  (Storage  Area  Curve)  seperti  dapat  dilihat  pada  gambarberikut.



Gambar 4.4
Kurva luas-tampungan Danau poso
sumber: Studi  Kelayakan Teknis PLTA  Pamona-2 PT.Poso  Energy

Garis   menggambarkan   Kapasitas   Danau   Poso  dengan   luas   dari   danau   itu  sendiriberbanding dengan tingkat  elevasi dari danau poso.
Dari  kondisi  alam yang  ada,  dasar  outlet  danau di  daerah  Tentena  mempunyaielevasi508,5 m  dpl, dengan  muka air  danau berdasarkan  hasil perhitungan  bervariasiantara 509,7   sampai 512,7 m  dari permukaan laut.  Di outlet danau terletak  kota Tentenayang  berpenduduk   cukup  padat,   yang  pada  saat   banjir  periode  ulang   lima  tahunansebagian  jalan di  kota  tersebut (evelasi  512,25  m dpl)  selalu  tergenang oleh  air  danau.Dengan kondisi  alam  tersebut terlihat,  walaupun terdapat  ruang gerak  drawdown secaraalami  sebesar 3  m, namun  dimungkinkan  hanya  dipergunakan  sebesar 2-3  m  saja agardaerah di sekitar  danau khususnya kota Tentena  aman terhadap bahaya banjir.  Berikut iniadalah peta DAS Sungai Poso:







Gambar 4.5
Daerah Aliran Sungai Poso
Sumber : PT.Poso  Energy





InitialOutlay (Biaya Investasi  Awal)

Nilai  investasi   awal  yang   dibutuhkan  untuk   menjalankan  proyek   ini  adalahsebesar    Rp1.693.679.370.    Investasi    terdiri    dari    Pre-construction,  CivilWorks, Mechanical  & dan  Electrical  Works.  Disamping  itu, pembelian  kendaraan  operasional,sparepart,  serta  fasilitas  perusahan  lainnya  akan  digunakan  untuk  menunjang  kegiatan
operasional  maupun  produksi   perusahaan.  Investasi  terbesar  dalam  proyek   ini  adalah
pada  electrical  works,  khususnya  pembelian  turbin.  Investasi tersebut  dilakukan  untuk
mencapai  kapasitas   produksi  sebesar   1.439.240.400  kwh  per   tahun.  Biaya  investasi,
perencanaan investasi  dan kegiatan pendanaan investasi  adalah seperti tabel 4.1Biaya investasi awal,  yang dapat dilihat dari tabel dibawah  ini.

Tabel 4.1
Investasi Awal
Sumber : PT.Poso  Energy


Investasi Pra-Konstruksi

Rincian  biaya  investasi  awal  untuk  kegiatan  pra  konstruksi  dapat  dilihat  padaTable   4.1    Total   kegiatan    investasi    ini   membutuhkan    total   biaya    sebesar   Rp.55.751.374.070.  Seluruh biaya  ini  dialokasikan  dari modal  sendiri.Biaya  ini antara  laindigunakan   untuk   mendapatkan   perizinan  pembangunan   proyek   PLTA   sebesar   Rp.377.777.780 dan untuk pembelian  design dan mesin sebesar Rp. 50.592.000.000.
Perusahaan juga  membutuhkan investasi  sebesar Rp. 4.781.596.296  yang digunakanuntuk mendapatkan  kepemilikan atas lahan.  Proyek ini membutuhkan  lahan seluas 10.000m2di desa Sulewana,  Kecamatan Pamona  Utara Kabupaten Poso,  Propinsi Sulawesi Tengahyang akan digunakan  untuk pembangunan bangunan  turbin, bangunan kantor,  gudang, rumahkaryawan, rumah sakit,  sekolah, dan berbagai fasilitas lainnya.




Investasi Civil Work

Pelaksanaan   proyek   pada   daerah  yang   terpencil,   mengharuskan   perusahaanmandiri  dan  mempunyai   fasilitas  infrastruktur  yang   lengkap.  Pembukaan  lahan  baruuntuk  pembangunan infrastruktur  juga  merupakan  syarat mutlak  yang  harus  dilakukan.Perusahaan  membutuhkan  suatu  lapangan  penerbangan   pribadi  yang  dapat  digunakanuntuk  pengiriman  logistik  dan mesin,  maupun  untuk  kegiatan  transportasi  perusahaan.Berikut   ini  merupakan   biaya   investasi   yang   dialokasikan   untuk  civil   work,   yangmerupakan diantaranya untuk  keperluan :
1.   Clearing   (medium   vegetation),  pembersihan   lahan   dari   tanaman  untuk
persiapan konstruksi
2.   Access Road sepanjang  3,89 km,  jalan akses dari jalan  umum menuju lokasi
Proyek
3.   Cofferdam,      bangunan  yang   dapat   berupa   urugan   tanah,  urugan   batu,
tumpukan karung pasir,  tiang pancang, yang digunakan  untuk menutup daerah
konstruksi dari genangan air
4.   Barrage/Weir,  bangunan  yang dapat  terbuat  dari beton,  pasangan  batu ataubronjongyang dibangun melintang suatu sungai digunakan untuk membelokan air sungai menuju intake (bangunan pengambilan)
5.   Intake & offtake  Structure & Sand Trap, intake:  bangunan yang digunakan
untuk  mengambil  air dari  sungai;  offtake:  bangunan  yang  digunakan  untuk
membuang  air kembali  ke  sungai;  sand trap:  bangunan  yang  berupa sebuah
kolam  yang  digunakan  untuk  mengendapkan  pasir  yang  terbawa masuk  ke
intake supaya tidak masuk kedalam  waterway
6.   Waterway  Open   Channel,  bangunan   yang  berupa   saluran  terbuka   yang
digunakan untuk mengalirkan  air dari intake/sand trap menuju head pond
7.   Head   Pond,   bangunan   yang   berupa   kolam   dengan    kedalaman   cukup,
digunakan untuk  pengambilan air  menuju ke pipa  pesat (penstock);  penstock:
pipa yang  digunakan  untuk mengalirkan  air bertekanan  dan  kecepatan tinggi
dari headpond menuju ke turbin
8.   Terminal Valve House,  bangunan yang didalamnya terdapat katup utama
9.   Power   House,   bangunan    yang   didalamnya   terdapat   peralatan-peralatan
pembangkit
10. Tail  Race   Structure,  bangunan   yang  dapat  berupa   saluran  terbuka   atau
tertutup,  digunakan  untuk  menyalurkan  air  buangan  dari  turbin  menuju  ke
sungai
11. General  Construction  Facilities,   fasilitas  konstruksi  umum,  seperti  jalan,
jembatan,  drainase,   kantor   proyek,  perumahan   proyek,  gudang,   peralatan
konstruksi, tempat penyimpanan  material.
Mechanical And Electricity

1.   Radial   gate,  pintu   air  yang   permukaannya   berupa  busur   lingkaran   dan
memiliki as pada pusat lingkaran
2.   Stoplog  at  Radial  Gate,  batang-batang  yang  terbuat  dari  baja  atau  beton,
digunakan  untuk   membendung  air   di  sebelah  hulu   radial  gate   pada  saat
perbaikan
3.   Intake Gate,  pintu air yang  berada di  intake, digunakan untuk  menghentikan
pengambilan air dari sungai  pada saat pemeliharaan
4.   Stoplog  at  intake  gate,   batang-batang  yang  terbuat  dari  baja  atau   beton,
digunakan  untuk   membendung  air  di   sebelah  hulu  intake   gate  pada  saat
perbaikan
5.   Trashrack  at  intake   gate:  kisi-kisi  yang  terbuat  dari  baja,   diletakkan  di
sebalah hulu  intake gate, digunakan  untuk menahan sampah  agar tidak masuk
kedalam saluran
6.   Off takegate:  pintu air  yang terletak  di sebelah hilir  turbin, digunakan  untuk
menutup air supaya masuk  kedalam turbin pada saat pemeliharaan
7.   Stoplog  at  off take  gate,  batang-batang  yang  terbuat  dari  baja atau  beton,
digunakan  untuk  membendung   air  di  sebelah  hilir   offtake  gate  pada  saat
perbaikan
8.   Flushing   gate,   pintu   air   yang   digunakan   untuk   menguras   pasir   yang
mengendap didalam sand trap
9.   Stoplog  at  flushing  gate, batang-batang  yang  terbuat  dari  baja  atau beton,
digunakan  untuk  membendung  air  di  sebelah  hulu  flushing  gate  pada  saat
perbaikan
10. Trashrack at  penstock, kisi-kisi yang terbuat  dari baja, diletakkan di  sebalah
hulu penstock,  digunakan  untuk menahan  sampah agar  tidak masuk  kedalam
penstock
11. Penstock valve,  katup yang berada  pada penstock,  digunakan untuk menutup
aliran didalam penstock pada  saat pemeliharaan
12. Penstock    steel   pipe,   pipa    yang   terbuat    dari   baja,   digunakan    untuk
mengalirkan  air  bertekanan  dan  kecepatan  tinggi dari  headpond  menuju  ke
turbin
13. Turbin  & generators,  turbine: suatu  peralatan yang  apabila dialiri  air  dapat
berputar; generator:  sebuah peralatan yang  digunakan untuk mengubah  energi
gerak turbin menjadi energi  listrik
14. Overhead travelling  crane, peralatan  pengangkat yang berada  di bagian atas
powerhouse,   dapat   berjalan   di  sepanjang   powerhouse,   digunakan   untuk
mengangkat   peralatan-peralatan  yang   berada  didalam   powerhouse  selama
perawatan
15. Miscellaneous  meta,   bermacam-macam  pekerjaan  baja   atau  bahan  logam
lainnya
16. Electrical Works, pekerjaan  yang berhubungan dengan peralatan listrik

Aspek Pemasaran

Kondisi Kelistrikan di Indonesia

Salah satu sarana  dan prasarana yang memadai untuk  menunjang kepentingan dankegiatan   sehari-hari    diantaranya   adalah    kebutuhan   akan   listrik.    Penyediaan   danpendistribusian  listrik  saat ini  di  Indonesia  merupakan wewenang  dan  tanggung  jawabpemerintah  yang  pelaksanaannya  didelegasikan  kepada  PT  Perusahaan  Listrik  Negara(PLN).  Instansi  ini  juga  bertindak  sebagai  Pemegang   Kuasa  Usaha  Ketenagalistrikan(PKUK)  yang  menangani   penyediaan  tenaga  listrik   bagi  kepentingan  rumah  tangga,industri, usaha komersial dan  kegiatan sosial di Indonesia.
Kebutuhan tenaga  listrik di Indonesia  terus mengalami  peningkatan dari tahun  ketahun, namun belum  didukung oleh adanya  peningkatan daya listrik yang  sesuai. Kondisiini  tentunya  sangat  menghawatirkan  dikarenakan  kekurangan  suplai  listrik  akan  terusterjadi.  Pemadaman  listrik  secara  bergilir  telah  dilakukan  di beberapa  wilayah  sepertiwilayah  Sumatera, Kalimantan  dan  Kawasan Timur  Indonesia  lainnya.  Suplai listrik  diwilayah   Jawa-Bali   sementara   ini  masih   dalam   kondisi   yang   cukup   aman  namundiprediksikan  dapat  terjadi  kelangkaan   listrik  apabila  pembangunan  pembangkit   barutidak dapat terealisasi sesuai  dengan kebutuhannya.
Hingga  saat   ini  penyediaan  tenaga   listrik  di  Indonesia  masih   belum  mampumemenuhi  kekurangan suplai  listrik  secara nasional.  Berdasarkan  data PT  PLN, daerahkritis ketenagalistrikan di Indonesia   dapat dilihat pada gambar berikut ini:





Gambar 4.6
Daerah Kritis Listrik Indonesia

Dari  gambar diatas  terlihat bahwa  di  wilayah Sumatera  sebagian  besar masih  termasukdalam  daerah kritis  karena kurangnya  cadangan  daya  listrik, terutama  untuk memenuhikebutuhan listrik  saat peak load.   Berdasarkan  Standard  PT. PLN (Project  Assesment ofSystem Adequacy) bahwa  cadangan operasi (Reserve Margin)  yang normal adalah di atas30% (> 30%)

Kondisi Kelistrikan di Sulawesi

Sistem   kelistrikan    yang    ada   di    kepulauan   Indonesia    belum   sepenuhnyaterintegrasi  dengan  jaringan   transmisi.  Saat  ini  yang  telah  terintegrasi  hanya  sistemkelistrikan  Jawa-Madura-Bali   dengan  jaringan  transmisi  500  KV.  Sedangkan   sistemkelistrikan di  luar pulau  Jawa-Madura-Bali dan  Sumatera merupakan  sistem kelistrikanyang    relatif    belum   berkembang,    dimana    satu    sama    lain    belum    sepenuhnyaterinterkoneksi.  Sistem masih terdiri  dari sub-sistem  dan sub-sistem  kecil yang masing-masing terpisah  satu sama  lain dan masih  terdapat daerah-daerah  terpencil  yang berdirisendiri dan terisolasi.
Secara umum,  pertumbuhan  pembangkit listrik  di berbagai  wilayah  di Indonesiadapat  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  listrik  nasional  karena  dengan  pertumbuhantersebut  menyebabkan adanya  interkoneksi  jaringan pada  beberapa daerah  yang  denganjaringan listrik nasional.
Dalam  era otonomi  daerah,  pembangunan ekonomi  di  daerah diperkirakan  akantumbuh  lebih  cepat dibanding  dengan  Jawa.  Pertumbuhan  ekonomi  ini sejalan  denganpertumbuhan   kebutuhan  energi   termasuk  tenaga   listrik.   Masalah  utama   yang  perludiperhatikan untuk wilayah  di luar Jawa adalah antar wilayah  belum dihubungkan denganjaringan  transmisi  dan  beban   yang  tidak  berimbang  antara  siang  hari   (off-peak)  danmalam  hari (peak).  Kondisi  ini menyebabkan  umumnya  pembangkit yang  dioperasikanadalah  pembangkit yang  mempunyai  waktu awal  operasi  (start-up) cepat  dan fleksibel,antara lain PLTD, PLTA dan  PLTG.

Rencana Pembangunan PLTA  Pamona-2

Mengacu  kepada Gambar  3.5  mengenai daerah  kritis  listrik  di Indonesia,  untuk
pulau  Sulawesi  khususnya   Sulawesi  selatan  mempunyai  kapasitas   sebesar  362  MWdengan kebutuhan  sebesar  453 MW  dan mengalami  kekurangan sebesar  – 91  MW. Inijuga   dikarenakan    pembangkit   yang    ada   di   Sulawesi    Selatan   digunakan   untukmenghantarkan  listrik  untuk  daerah–daerah  di  sekitarnya yakni  Sulawesi  Tengah  danSulawesi Tenggara,  sehingga dibutuhkan pasokan listrik  yang lebih besar di kawasan  inisehingga bisa mencukupi dan  tidak menghambat kegiatan perekonomian di Sulawesi.
Pembangunan    kelistrikan    merupakan    kebutuhan    yang    sangat     mendesak,mengingat kapasitas  listrik yang ada saat ini  di Sulawesi Tengah belum  mampu melayanipermintaan untuk  kegiatan industri skala  besar. Sulawesi  Tengah memiliki potensi  untukpembangunan  Pembangkit  Listrik  Tenaga  Air  (PLTA)  baik yang  berkapasitas  rendah,sedang dan besar, antara  lain potensi air Danau Lindu di Kabupaten  Donggala dan SungaiPoso di  Kabupaten Poso,  yang mampu mensuplai  kebutuhan listrik  di Propinsi  SulawesiTengah  dan  propinsi  lainnya  di  Sulawesi.  Potensi  ini  sangat  prospektif  untuk  jangkamenengah dan jangka  panjang guna memenuhi kebutuhan  tenaga listrik Sulawesi  Tengahdan Pulau Sulawesi pada umumnya.
PT  Poso   Energy   berencana  membangun   PLTA   Pamona-2  dengan   kapasitasterpasang  # 3  x 65  MW, yang  berlokasi di  Kabupaten  Poso, Propinsi  Sulawesi  Tengahdan  termasuk   wilayah  pengusahaan   PT  PLN   (Persero)  Wilayah   VII.  Pembangunanpembangkit listrik ini merupakan  salah satu upaya untuk menambah daya  listrik sekaligusmengurangi krisis listrik di  wilayah Sulawesi yang terjadi selama ini.

Pembangunann PLTA  di daerah Poso ini  selain untuk melayani kebutuhan  daerahsekitar   proyek   (Sulawesi   Tengah),    juga   diharapkan   dapat   mendukung   pelayanankebutuhan  tenaga listrik  di seluruh  Sulawesi, khususnya  industri tambang  yang  tersebardi  Sulawesi  Selatan   dan  Tenggara.  Pembangunan   PLTA  Pamona-2  yang   terletak  diSungai   Poso   dengan   sumber   airnya   berasal   dari  Danau   Poso,   Sulawesi   Tengah, merupakan  bagian   yang  sangat   penting  dalam  rangka   untuk  mendukung   kebutuhantenaga listrik tersebut.

Penetapan Harga Jual (Tarif)  Listrik

Berdasarkan  draf Power  Purchasing  Agreement  (PPA)  antara  PT PLN    (buyer)dengan  PT  Poso  Energy  (seller),  harga  jual  listrik  PLTA  Pamona-2  kepada  PT  PLNterdiri dari 5 komponen tariff  yaitu :
Analisis Dampak Lingkungan




Pelaksanaan  Proyek PLTA  Pamona-2 berpotensi  menimbulkan  berbagai dampakatau pengaruh terhadap  lingkungan, baik pada tahap pra-konstruksi,  tahap konstruksi, dantahap operasi.  Berikut  ini akan  duraikan  komponen lingkungan  yang  diperkirakan akanterkena dampak oleh adanya  kegiatan pembangunan Proyek PLTA Pamona-2.
Berdasarkan  Kepmen  Lingkungan  Hidup  Nomor:  KEP-03/MENLH/2000  tahun2000 tentang  Jenis Usaha  dan /atau  Kegiatan Yang  Wajib Dilengkapi  dengan AMDAL,maka proyek pembangunan  PLTA Pamona-2 dengan  kapasitas 195 MW, perlu  dilakukanAnalisis  Dampak  Lingkungan (AMDAL)  karena  kapasitas  total  pembangkit di  atas  50MW.
Saat  ini  rencana   pembangunan  PLTA  Pamona-2   oleh  PT  Poso  Energy   telahdilengkapi  dengan Analisis  Dampak  Lingkungan (ANDAL),  RKL,  dan RPL  , dan  jugatelah disetujui oleh Bupati Poso  No. 670.21/162/Bapedal, tanggal 3 Agustus  2005.

Dampak Pada Tahap Pra-produksi

Komponen    kegiatan    pada    tahap   pra-konstruksi     yang   diperkirakan    akanmemberikan  dampak   terhadap  lingkungan  adalah   kegiatan  sosialisasi,  publikasi,   danpembebasan   lahan   untuk   proyek    PLTA   Pamona-2.   Secara   umum   dampak    yangdiperkirakan terjadi  adalah timbulnya persepsi  masyarakat. Dampak ini  dapat dieliminasi bila dilakukan pendekatan kepada masyarakat secara terus menerus dan berkesinambungan.

Dampak Pada Tahap Konstruksi

            Komponen  kegiatan  pada  tahap  konstruksi yang  diperkirakan  akan  memberikandampak  terhadap lingkungan  adalah  kegiatan  landclearing  dan pengurugan  pada  tapakproyek, pengangkutan  material, pembangunan  bangunan utama,  penyerapan tenaga kerjadalam rangka pelaksanaan  pembangunan proyek PLTA Pamona-2.  Secara umum dampakyang diperkirakan terjadi adalah  sebagai berikut:
·         Penurunan kualitas udara dan  peningkatan intensitas kebisingan
·         Perubahan Aliran Permukaan
·         Material tanah yang tercecer
·         Perubahan Biota (biota darat dan biota air)
·         Mata Pencaharian dan pendapatan

Dampak Pada Tahap Operasi

Dampak  lingkungan yang  diperkirakan  terjadi pada  tahap operasi  bersumber  daripengoperasian   PLTA   dan   penyerapan   tenaga   kerja.    Secara   umum   dampak   yangdiperkirakan terjadi adalah  sebagai berikut:
·         Penurunan kualitas dan kuantitas  air
·         Estetika lingkungan
·         Pemanfaatan ruang (perubahan struktur ruang)
·         Perubahan ctra kawasan
·         Peningkatan volume lalu lintas
·         Ketenagakerjaan
·         Mata Pencaharian dan pendapatan
·         Kenyamanan
·         Persepsi masyarakat

Berikut ini akan diuraikan ANDAL,  Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)  danRencana  Pemantauan Lingkungan  (RPL)  yang telah  disiapkan  sebagai  antisipasi dalamrangka pembangungan PLTA  Pamona-2

Aspek Keuangan

Perencanaan Sumber Pendanaan

Biaya  investasi  awal  yang  dibutuhkan  proyek  ini  akan  berasal  dari  kombinasipinjaman  bank  dan  penyertaan  modal PT.  Poso  Energy.  Perbandingan  biaya  investasitersebut sebesar 60,34 dan  39,66%, seperti yang digambarkan pada tabel  di bawah ini.


Jadwal Penarikan Pinjaman  Pokok Bank

Penarikan  pinjaman pokok  bank akan  dilaksanakan  dalam jangka  waktu periodepembangunan (3 tahun) dengan  perincian seperti pada Tabel 4.3


Pembayaran Pinjaman dan IDC

Pembayaran cicilan  pokok dan beban  bunga akan dilaksanakan  mulai dari kuartalpertama  tahun keempat,  dan  diharapkan akan  selesai  pada kuartal  keempat  tahun ke-8.Rinciannya adalah seperti pada tabel 4.4.





Pinjaman  IDC  akan  dibayarkan  pada tahun  keempat mulai  dari kuartal  pertama
hingga ke-4, yang dapat dilihat  pada Tabel 4.4.1


Asumsi-asumsi

Dalam  menganalisis  kelayakan  investasi  pada  proyek  Hydro  Power Poso-3  inidigunakan asumsi-asumsi seperti  pada Tabel 4.5

Pengaruh Krisis Global Terhadap  Asumsi Studi Kelayakan PLTA Pamona-2

Perubahan  asumsi akibat  krisis  ekonomi global  yang  terjadi pada  proyek PLTAPamona  2 seperti  pada  Tabel 4.5  khususnya  nilai tukar  yang  mengalami kenaikan  dariRp9500/USD  menjadi Rp11.000/USD  akan  menyebabkan nilai  investasi  menjadi besar,sehingga   dikhawatirkan   proyek    ini   menjadi   tidak   layak.   Untuk   mempertahankankelayakan  proyek   ini,  maka  harga   jual  kepada  PLN  harus   dinaikkan.    Harga   yangdisepakati saat  ini adalah 0.04 USD/KWH.  Krisis ekonomi global  ini dikhawatirkan jugaakan menaikkan biaya operasional  proyek, sehingga akan memperburuk kondisi  usaha.
Proyek  PLTA   Pamona  2  sampai  saat   ini  masih  dalam  tahap   konstruksi  danmenyisakan  waktu  satu  tahun  lagi  sebelum  beroperasi   secara  penuh.  Dengan  adanyaperubahan   mendasar  pada   asumsi–asumsi  seperti   nilai  tukar   dan  biaya   operasionalpenulis  ingin   melihat  seberapa   besar  pengaruh   perubahan  asumsi   tersebut  terhadapkelayakan proyek ini.

Proyeksi laporan keuangan
Proyeksi Laba Rugi
Proyeksi   laba  rugi   digunakan  untuk   melihat   kinerja  operasional   perusahaanselama   periode   proyeksi.    Laba   rugi   merupakan    bentuk   laporan   keuangan    yangmenyajikan semua  bentuk pendapatan dan biaya  dalam satu tabel.  Proyeksi laba-rugi PT.Poso Energy  dapat dilihat  pada Lampiran  rugi laba  PT. Poso  Energy baru  mendapatkanrevenue setelah tahun ketiga  karena sebelumnya merupakan tahap konstruksi.

4.7.2 Proyeksi Pendapatan

Pendapatan  perusahaan adalah  perkalian  komponen dari  harga dan  volume dayalistrik yang  dijual. Volume  penjualan  didapat dengan  mengasumsikan utilisasi  kapasitaspembangkit  listrik  selama  periode  proyeksi  (2007-2037.   Sedangkan  harga  jual  sesuaidengan  kontrak jangka  panjang  dengan  PLN, yaitu  sebesar  0.04/KWH (lihat  Lampirannew sales & Omr)  dengan tingkat  kapasitas per tahunnya sebanyak  2.992.000.000 KWH.Menurut  Direktur  Operasional  PT.Poso Energy,  pembangkit  listrik  ini  akan beroperasipada  tingkat  kapasitas  produksi  sebesar  65%  dari  maksimal  kapasitas  produksi  yakni80% karena dengan  tingkat utilisasi mesin tersebut bisa  menjaga keadaan fisik dari mesinyang dioperasikan.

4.7.3 Proyeksi HPP

Dampak   dari  krisis   global   yang  juga   berimbas   pada  naiknya   komponen   –komponen pembentukan  harga/unit  karena data  yang ada  pada PT.Poso  Energy terbatasmaka  penulis  hanya  memberi gambaran  terhadap  harga  pokok  PT.Poso  Energy  sudahmenetapkan  dari  awal  bahwa  harga pokok  penjualan  listrik  adalah  sebesar  13  %  daripendapatan. Jadi pendapatan  lah yang menentukan besar dari HPP

4.7.4 Proyeksi Biaya Operasional

Beban usaha memiliki tiga  komponen utama yaitu Beban Administrasi,  Overhead,dan  Beban  Lain-lain  (Miscellanius)  tetapi  proporsi  biaya  operasional  tidak  lah  begitusignifikan jadi tidak dicantumkan  dalam studi ini.

4.7.5 Proyeksi Pendapatan (Beban) Lain-lain

Nilai   proyeksi   pendapatan   (beban)   lain-lain   terdiri   dari   beban   bunga   dankeuntungan  (kerugian)  kurs. Variabel  beban  bunga  didapatkan  dari pembayaran  bungapinjaman jangka panjang dan  pinjaman jangka pendek.

Perubahan  kurs dari  waktu ke  waktu menyebabkan  nilai utang  dalam mata  uangasing  dikonversi kedalam  rupiah  akan  berubah-ubah,  naik atau  turun.  Bila  kurs rupiahterhadap  dolar  melemah  maka utang  akan  membesar  atau  mengalami  kenaikan  begitupula   sebaliknya   bila   kurs   rupiah   menguat   terhadap   dolar   maka   utang   mengecil.Keuntungan  dan kerugian kurs  terjadi karena  perusahaan menggunakan  pinjaman  dalammata uang USD. Dalam  proyeksi ini diasumsikan kurs tetap  pada Rp9.500/USD sehinggatidak terjadi keuntungan dan  kerugian kurs.


4.7.6 Proyeksi CashFlow

Proyeksi cash  flow terdiri  dari dua bagian  yaitu penerimaan  kas dan pembayarankas.  Penerimaan  kas terdiri  dari  penerimaan  penjualan,  tagihan piutang  usaha,  piutanglain-lain,  dan uang  muka dan  biaya  dibayar di  muka  (sebagai pengurang).  Pengeluarankas  terdiri  dari pembayaran  utang  usaha,  pembayaran  utang  bunga,  biaya  yang  masihharus dibayar,  utang lain-lain,  uang muka, gaji  dan upah, beban  administrasi dan umum, dividen , cicilan utang bank,  pajak, dan pengeluaran investasi fixed asset.
Pada  proyeksi  cash  flow selama  30  tahun  tidak  ada  tambahan  pendanaan  barukarena  tidak  ada tambahan  investasi  mesin  baru  dan  juga tidak  terjadi  cash  shortage. Cash  flow  PT.Poso  Energy  mengalami  minus  pada  awal  periode  ketika  diberlakukanproses   konstruksi.   Sehingga    pada   tahun   pertama,   ending   balance   akan    menjadi (509.681.115)  Dan menjadi  positif ditahun  ke 6  menjadi Rp623.619.583    seperti dilihatpada  Lampiran     Cashflow  dan  Cash   inflow  dari  PT.Poso   Energy  didominasi  olehoperating profit yang  masih minus. Baru tahun  ke 4 lah maka operating  profit bisa positifkarena  mulai ada  Pinjaman  Bank yang  lebih besar  dibanding  2 tahun  sebelumnya  .danpada tahun  ke 4  sudah mulai ada  penerimaan dari  operating profit  sehingga cash  inflowmenjadi positif.

4.7.7 Proyeksi Neraca

Neraca menyajikan  posisi aset,  utang, dan  modal pada  tanggal tertentu.  Proyeksineraca merupakan  alat control  terhadap kebenaran angka-angka  proyeksi, dimana  neracatersebut harus  balance. Pada neraca  PT.Poso Energy  (Lampiran Neraca)   pada tahun 1-3Total Aset  PT.Poso Energy   dalam keadaan  minus, ini  dikarenakan komponen  dari asset PT.Poso  Energy seperti  Cash and  bank mengalami  minus sampai  dengan tahun  ke5. pada tahun ke 6 akan positif  sebesar Rp645.976.007
Sedangkan  disisi  hutang,  dari  tahun  1    6  ada  hutang  dalam  neraca  PT.PosoEnergy dan  pada tahun  ke 7  sudah tidak  ada lagi  hutang  yang terjadi.  Ini menunjukkanPT Poso  Energy  sudah lepas  dari Hutang  dan  bisa beoperasi  dengan  tambah baik.  Dandari   sisi   equitynya   maka   kita   bisa   melihat   equity   positif   ditahun   ke   4  sebesarRp508.171.726total  hutang  dan   modal  juga  sama   yakni  di  tahun  ke-4   baru  akanmenyentuh level  positif. Dengan  begitu  PT Poso Energy  bisa bekerja  dengan lebih  baiklagi  pada  tahun  ke  4  perjalanannya  yang  sekarang  baru  memasuki  tahun  ke  3  yaknipenyelsaian konstruksi.

4.7.8 AnalisisProfitabilitas

Pada  tiga  tahun   pertama  merupakan  periode   konstruksi,  sehingga   belum  adapendapatan  pada periode  tersebut. Pada  tahun keempat   PT  Poso Energy  akan memulaiberproduksi.  Pada  periode  konstruksi  total kerugian    tercatat  sebesar  (Rp106.114.856) Cash shortage  sebesar Rp106.114.856  akan ditutupi  dengan pinjaman dan  modal sendirimasing-masing  Rp636.668.914 dan  Rp42.445.943  Setelah itu  penerimaan akan  diterimasecara rutin  tiap tahunnya oleh  PT Poso Energy  dimulai dari tahun  ke 4 – 30  dan hutangakan dilunasi pada tahun ke  5.


4.7.9 Analisis Rasio Keuangan

Analisis ini sebagai penambah  informasi dengan melakukan pengolahan data  padaneraca dan laporan  laba rugi.  Rasio Keuangan PT.Poso Energy bisa dilihat  di LampiranRasio Keuangan PT.Poso Energy.

4.7.9.1 Liquidity Ratio

Perusahaan   memiliki  cukup   kemampuan   untuk   memenuhi   kewajiban  lancardengan tepat waktu yang  ditandai dengan nilai current ratio  di atas 1. Begitu pula denganquick  ratio dengan  nilai  yang juga  lebih  dari 1  menandakan  bahwa kas  dan  setara kasperusahaan  memungkinkan  untuk  membayar  kewajiban lancar.  Namun  dengan  adanyapenurunan nilai  current ratio  dan quick  ratio dari tahun  ke tahun  harus diwaspadai  olehmanajemen perusahaan agar tidak  terjadi penundaan pelunasan kewajiban jangka  pendek.

4.7.9.2 Activity Ratio

Secara keseluruhan  efektifitas perusahaan penggunaan  sumber daya yang dimilikidalam semakin membaik  dari tahun ke tahun.  Nilai current asset turnover dan  fixed assetturnover  perusahaan  relatif stabil  menandakan  kemampuan  perusahaan  untuk  memutaraset menjadi  penjualan cukup  stabil yakni  sebesar 0.46  dan 0.32  pada awal  tahun 1 danterus bergerak stabil dikisaran  itu.

4.7.9.3 Leverage Ratio

Perusahaan  dibiayai oleh  sedikitnya  60% menggunakan  utang.  dan 40  % equityini menunjukkan  kemampuan leveragenya  adalah sebesar 1.16  pada awal tahun  dan debtrationya  pada  awal  tahun  yang  mencapai  0.54  dan  akan  terus  disekitar  itu  dan  tidakmelebihi 0.6.



4.8       Profitability Ratio

Laba bersih  PT Poso Energy  dari tahun ke  tahun diperkirakan  dapat memberikantingkat  pengembalian  yang  positif  bagi  pemilik.  Rata-rata  tingkat  pengembalian  (PM,ROI, atau ROE) mencapai 33%  kepada pemegang saham (ekuitas) setiap  tahunnya.

4.8.1 Perhitungan NPV, IRR, Payback  Periode, B/C  Ratio

Dengan adanya  asumsi-asumsi baru  yang berubah seperti  nilai tukar, kapasitas  produksi,harga   jual,   dan   juga   biaya-biaya    yang   digunakan   untuk   proses   operasi       makaperbandingan proyeksi  NPV, IRR, Payback periode,  dan B/C ratio antara studi  kelayakanusaha semula  (original)  dengan perhitungan  ulang  yang penulis  lakukan  adalah sebagaiberikut:


4.8.1.1 NPV

Pada  studi  kelayakan  awal,  proyek PLTA  Pamona-2  mempunyai  NPV  sebesarRp6.014.970.336.  Sebelum krisis  ekonomi global  nilai tukar  rupiah terhadap  dolar yangdigunakan  adalah Rp9.500/USD  dan  biaya-biaya  biaya operasional  diasumsikan  sepertipada lampiran  (new  omr and  sales) Dalam  perhitungan studi  kelayakan tersebut  proyekPLTA Pamona-2  sangat layak  untuk dilakukan. Tetapi  dengan adanya krisis  global yangmenyebabkan   naiknya    nilai   tukar   yang   sempat   menyentuh    level   Rp11.000/USDmengubah  NPV   menjadi  Rp5.849.240.709   Hal  ini   menunjukkan  bahwa   berubahnyaasumsi pokok  yang  dipengaruhi oleh  krisis  ekonomi global,  terutama  nilai tukar  rupiahterhadap dolar Amerika  Serikat tidak berdampak  langsung terhadap perubahan nilai  NPVproyek  PLTA tersebut,  sehingga  proyek  masih layak  untuk  dijalankan.  Dengan  sedikitmempengaruhi NPV proyek.
Studi ini hanya  menekankan pada  aspek komersial dari  pembangunan PLTA tersebutdan   tidak   melihat    pada   benefit   yang   diciptakan    oleh   proyek   tersebut    terhadapperkembangan  ekonomi  daerah  di  sekitarnya  (social  appraisal).  Jika  proyek  ini  tidaklayak  secara  komersial,  tetapi dibutuhkan   oleh pemerintah  daerah  untuk  mempercepatpembangunan  di  daerah  tersebut, maka  selayaknya  pemerintah  daerah  mengkaji  ulangproyek  PLTA ini  dengan  menggunakan pendekatan  social  appraisal.  Jika benefit  yangdiberikan  oleh  proyek tersebut  dinilai  jauh  lebih  besar dari  pada  yang  dihitung  secarakomersial,  maka proyek  tersebut  layak untuk  dilaksanakan,  misalnya  penerapan  tenagakerja,  munculnya  usaha  baru  dalam  kehidupan  masyarakat  di  daerah  sekitarnya  yangpada gilirannya  meningkatkan pendapatan  dan perekonomian  secara umum  dimana nilaitambah   yang    dihasilkan   dapat    melebihi   NPV    yang   negatif    dalam   perhitungankomersialnya. Studi ini belum  mempertimbangkan social appraisal  tersebut.

4.8.1.2 Internal Rate of Return  (IRR)

IRR   Proyek    PLTA   Pamona   2    sebelum   dan   sesudah    mempertimbangkanperubahan  asumsi setelah  krisis global  adalah  sebesar 42.89%  pada  saat sebelum  krisisdan  42.04%  setelah  krisis.  Perubahan  IRR  tersebut  hanya disebabkan   oleh perubahannilai    tukar   rupiah    terhadap    USD   dari    Rp9.500/USD    dan    Rp11.000/USD.   Inimenunjukkan   kelayakan  proyek   dilihat   dari  pengembaliannya   yang   mencapai   42%meskipun  dunia  sedang  dilanda  krisis  ekonomi  global.  Dan  tingkat  pengembalian  inisangatlah besar disaat ekonomi  sedang mengalami resesi.

4.8.1.3 Payback Period

Pada tabel 4.8  tampak bahwa perhitungan  studi kelayakan  proyek ini sebelumnyadapat  mengembalikan  investasi  awalnya  dalam  waktu  4  tahun.  Tetapi  setelah  adanyaperubahan  kurs   payback  period  PLTA   Pamona-2  menjadi  5   tahun.  Ini  dikarenakanhutang bank yang harus  dibayarkan oleh PLTA Pamona  2 pada 3 tahun pertama dan akanlunas  dalam  jangka  waktu  5  tahun.  Berarti  proyek  PLTA  Pamona  2  memiliki   tinkatperiode pengembalian yang  baik ketika dunia sedang dilanda krisis ekonomi  global.

4.8.1.4 B/C Ratio

Pada Tabel  4.8 tampak  bahwa B/C  ratio proyek PLTA  Pamona 2  sebelum krisissebesar  7.51% ini  menunjukkan bahwa  benefit  yang bisa  didapat dari  PLTA Pamona  2terhadap  biayanya  sangat  besar.  Rasio  tersebut  sangat  bagus karena  cash  flow  positifyang  dihasilkan  jauh  lebih  besar  daripada  negatifnya.  Tetapi  setelah  krisis  B/C Ratiomenjadi  3.58 %,  ini menunjukkan  bahwa  benefit yang  diperoleh  oleh proyek  ini masihbagus karena hasil penghitungan  B/C ratio nya yang positif.




4.9   Analisis Sensitivitas

Dalam melakukan  analisis sensitivitas,  suatu asumsi  diubah  sementara  yang laintetap.  Analisis  sensitivitas   memiliki  kelemahan  yaitu  apabila  perubahan  suatu  asumsiberubah  tidak   akan  mempengaruhi   asumsi   lain.  Contoh   apabila  penulis   melakukanperubahan terhadap  harga jual  listrik tidak akan  menyebabkan turunnnya  pelanggan atauPLN tetap  membelinya karena listrik  merupakan kebutuhan  yang utama bagi masyarakatindonesia. Jadi  penulis akan  melakukan  perhitungan sensitivitas  beberapa asumsi  pokokyang akan  dibandingkan  dengan kelayakan  proyek dilihat  dari NPV.  Setelah itu  penulisberharap  akan bisa  melihat kekhawatiran  dari masyarakat  tentang  pembangunan proyekini ditengah krisis ekonomi global  yang tengah terjadi.



4.9.1    Analisis Sensitivitas  Harga Jual Listrik Terhadap NPV

Pada  Tabel   4.11   tampak  bahwa   harga  jual   listrik   dapat  diturunkan   sampai
Rp.107/KWH   dengan  asumsi   kurs   tetap  Rp9.500/USD,   maka   harga  jual   dapat
diturunkan sampai dengan  Rp107/KWH. Hal ini menunjukkan  bahwa harga jual tidak
sensitif terhadap  kelayakan  proyek. Bahkan  bila kurs menjadi  Rp11.000/USD,  maka
harga  jual  dapat   diturunkan  sampai   Rp114/KWH.Dengan  demikian   proyek  tetap
layak dibangun.
Pada Tabel  4.1.1 juga dijelaskan  bahwa sensitivitas dari  kurs USD terhadap  NPV
PLTA  Pamona   2,  dimana  dengan  nilai   tukar  Rp11.000/USD1,   maka  NPV  akan
menjadi 5.849.240.170  dengan  demikian proyek  tetap layak  untuk dilaksanakan  dan
tidak akan  ditunda pembangunannya.  Karena proyek tidak  sensitif terhadap  asumsi –
asumsi  ini.  Dengan  demikian  proyek  tidak  sensitif  terhadap  harga  jual  listrik.  Ini
dibuktikan  dengan ketahanan  proyek  untuk  dapat menerima  harga  sampai serendah
Rp 107/kwh. Disaat NPV menunjukkan  angka 0.
Begitu  juga  untuk OMR  dari  perusahaan  yang  awalnya  given,  yakni  13% dari
revenue tidak sensitif  terhadap kelayakan proyek.  Ini ditunjukkan oleh ketahanan  dari
NPV   yang   bisa   menerima   OMR    perusahaan   sampai   85%   dari   revenue.   Ini
menunjukkan   proyek  sangatlah   layak   untuk  dijalankan.   Dan   biaya  OMR   tidak
signifikan  sehingga membuat  proyek  bisa  tetap berjalan  jika  biaya OMR  mencapai
85% dari total  revenue
Jadi  kekhawatiran  bahwa  proyek  akan terganggu  oleh  krisis  ekonomi  global  tidak
terbukti.  Kekhawatiran  dari proyek  untuk  tidak dilanjutkan  lebih  besar  dipengaruhi
oleh pembiayaan  awal proyek.  Jika pembiayaan  awal tidak ada  atau terganggu  maka
proyek terancam untuk dihentikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tugas Lainnya