Not My Own
Aspek Teknis
Lokasi
PT Poso
Energi berencana membangun
PLTA Pamona-2 dengan
kapasitas terpasang sebesar 3 x
65 MW di Pamona,
Kabupaten Poso. Lokasi PLTA
Pamona-2 terletak di desa
Sulewana, Kecamatan Pamona Utara
Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi
Tengah. Secara geografis,
lokasi PLTA Pamona-2
terletak pada posisi
0q10c-3q40c Lintang Selatan, dan
120derajat10'-123derajat23'
Bujur Timur. Berikut
ini ilustrasi lokasi
PLTA Pamona-2:
Gambar 4.1a
Lokasi PLTA Pamona-2
Sumber : PT. Poso
Energy
Untuk mencapai lokasi
dapat ditempuh dengan
kendaraan roda 4 (empat)
dariKota Palu, Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan ke Kota Poso dengan jarak 225 km selamar6 jam perjalanan dan dari Kota Poso ke Desa Sulewana dapat ditempuhr
1 jam dengan
jarak tempuh r52 km. Selanjutnya
dari Desa Sulewana ke lokasi bangunan utama (weir
site) dapat dicapai melalui akses
jalan yang telah dibangun dengan lebar + 8 m.
Sedangkan untuk
lokasi di bagian hilir
dapat ditempuh dari
Kota Poso ke
Desa
Tempemadoro, Kecamatan
Lage dengan kendaraan roda 4
di atas jalan beraspal dengan
jarak r30 km dalam waktu
tempuh 0,5 jam. Kemudian
dilanjutkan dengan jalan
kaki
lewat jalan setapak sejauhr5
km dengan waktu tempuh r2 jam perjalanan.
Gambaran
Umum Lokasi
PLTA Pamona terletak di
Sungai Poso yang pada bagian
hulunya terdapat danaualam yang besar
(Danau Poso) dengan luas permukaan
danau r362 km2 pada muka
airnormal serta mempunyai
luas daerah tangkapan
hujan (Catchment area) r 1.340
km2dengan sungai-sungai kecil
yang mengelilingi danau.
Danau Poso yang terletak di Sulawesi Tengah merupakan salah satu dari dua danauyang besar
setelah Danau Towoti
di Sulawesi Selatan.
Danau Poso mempunyai
luastangkapan hujan sekitar 1.340 km2 yang terdiri dari arah
anak sungai kecil
mengelilingiDanau. Elevasi muka
air yang cukup tinggi (515
m), maka secara topografi sangat baikuntuk Pusat Pembangkit Listrik.
Outlet Danau terletak di sebelah Utara dan mengalir melalui Sungai Poso melewatiKota
Poso sebelum ke laut.
Lebar sungai mula-mula lebar
dan menyempit pada
jarakkurang lebih 12 km dari Outlet Danau
dan kemiringan dasar sungai semakin
tajam danaliran air menjadi
cepat. Antara lokasi bendung PLTA
Pamona-2 dengan Power House,dasar sungai menjadi datar sampai di laut.
Kondisi
Seismologi
Berdasarkan SNI 1726-2002
mengenai standar design
resistensi/ketahananbangunan terhadap gempa yang memuat
peta pergerakan tanah, diketahui
bahwa lokasiPLTA Pamona berada
pada zona 5
gempa bumi. Berikut
ini adalah peta
seismic diIndonesia
Gambar 4.2
Peta seismilk Indonesia
Sumber : PT.Poso Energy
Pada zona ini pergerakan tanahnya adalah 0,25 g (g =
9,8 m/s2) dalam siklus 500tahun. Dengan
mengambil durasi daya
tahan bangunan adalah
selama 50 tahun
dankemungkinan terjadinya gempa
bumi dengan pergerakan
tanah sebagaimana tersebutdiatas atau lebih adalah
9,5% maka berdasarkan SNI 176-2002,
parameter design
untukketahanan bangunn atas
kekuatan gempa direkomendasikan untuk
menambah factorkeselamatan,
minimum 1,4 kali. Sehingga koefisien sismik
yang diterapkan adalah 0,35g.
Aspek
Ketersediaan Air
PLTA Pamona-2 memanfaatkan
aliran air sungai
Poso. Dalam aspek
ini akandibahas mengenai
kondisi sungai poso
serta ketersediaan debit
air sungai Poso
yangsangat menentukan operasional
PLTA Pamona-2 nantinya.
Analisis terhadap debit airdanau Poso beserta
analisis hidrologi lainnya bersumber
pada laporan Studi Kelayakanteknis PLTA Pamona-2.
Kondisi Topografi
PLTA Pamona terletak di
Sungai Poso yang pada bagian
hulunya terdapat danaualam yang besar
(Danau Poso) dengan luas permukaan
danau r362 km2 pada muka
airnormal serta mempunyai luas
daerah tangkapan hujan (Catchment area)r 1.340 km2 .
Secara umum kondisi topografi di bagian
hulu (Selatan) adalah perbukitan terjaldan bagian
hilir melebar ke
arah Barat-Utara berupa
dataran rendah hingga
pantai.Kemiringan rata-rata
Sungai Sadang adalahr0,010 (sepuluh
permil) yang diperoleh
dariperbedaan elevasi muka
air normal (NWL) keluaran
Danau Poso r511,21m terhadapmuara
sungai di pantai Poso dengan jarakr50km.
Dilihat dari bentuknya, kondisi topografi di sepanjang aliran sungai, dari keluaranDanau Poso
adalah daerah lembah dengan bentuk relatif datar sampai pada jarakr12 kmke
arah hilir (Poso-1), selanjutnya
berubah menjadi cekungan curam
yang membentukcelah terjal (bentuk huruf V) hingga di
muara. Volume efektif danau diperkirakan lebihbesar dari 700 x
106 m3 pada elevasi muka air
normal (r511, 21 m) di atas permukaanlaut disertai dengan bentuk topografi yang relatif curam hingga dataran pantai (r50 km).Kondisi ini sangat potensial untuk pengembangan pembangkit listrik
tenaga air.
Berdasarkan hasil
survai topografi, elevasi dasar sungai
pada lokasi bendung
yangdirencanakan (alternatif
Poso-3) adalahr264,17 m dan
elevasi keluaran pada pembuangakhir
(tailrace)r20,90 m, dan lokasi keluaran alternatif yang lain +26m, sehingga tinggijatuh (head) diperkirakanr250 m.
Danau Poso
yang terletak di
Sulawesi Tengah merupakan
salah satu dari
duadanau yang besar setelah
Danau Towoti di Sulawesi
Selatan. Danau Poso mempunyailuas tangkapan
hujan sekitar 1271
km2 yang terdiri
dari arah anak
sungai kecilmengelilingi
Danau. Elevasi muka air yang cukup tinggi (515 m), maka
secara topografisangat baik untuk Pusat Pembangkit Listrik.
Outlet Danau
terletak di sebelah
Utara dan mengalir
melalui Sungai Posomelewati Kota Poso sebelum ke laut. Lebar sungai mula-mula lebar dan menyempit padajarak kurang lebih 12 km
dari Outlet Danau dan
kemiringan dasar sungai semakin tajamdan aliran air menjadi cepat.
Gambar 4.3
Kondisi Aliran Sungai di Lokasi PLTA Pamona-2
Kondisi
Geologi
Kondisi geologi
regional daerah studi,
diperoleh berdasarkan Peta
GeologiLembar Poso, skala 1 : 250.000
yang disusun oleh T.O. Simanjuntak et al, DepartemenPertambangan dan
Energi-Dirjen Geologi dan
Sumber Daya Mineral-P3G,
Bandung1991.
1. Fisiografi
Secara morfologi, daerah
yang tercakup pada Peta Lembar Poso
dapat dibagi kedalam 5 satuan
morfologi : dataran rendah, perbukitan,
dataran tinggi, pegunungan
danperbukitan karst.
·
Dataran Rendah menempati daerah
sekitar sungai-sungai yang ada yaitu
SungaiPuna, Sungai Poso,
Sungai Sumara, Sungai
Morowadi, Sula di
Utara TelukTomori, daerah
sekitar Taripa dan
sekitar Tomata. Satuan
ini mempunyaiketinggian antara
nol sampai puluhan
meter di atas
muka air laut.
Satuan inimerupakan daerah
pemukiman dan pertanian.
·
Perbukitan terdapat
di bagian Utara
dan Tengah-Selatan lembar
peta. BagianUtara membentang
dari Taripa ke Timur
sampai Peura. Satuan ini
mempunyaiketinggian antara 200 m
sampai dengan 600 m di atas elevasi muka air laut.
·
Dataran Tinggi yang
terpisah-pisah terdapat di bagian Barat,
Tengah dan TimurLembar Poso. Bagian
Barat antara lain di
Gintu, Doda, Wuasa, Sadoa,
Palopo,Rulani, Toro, Labua,
Hulu Sungai Sopa dan sekitar Danau
Lindu. Bagian tengahmerupakan daerah pada
jalur tepi Barat dan Utara Danau Poso,
Timur di daerahBau. Satuan
ini mempunyai ketinggian lebih dari +600 m di atas elevasi muka airlaut. Umumnya merupakan daerah pertanian dan pemukiman.
·
Satuan Pegunungan menempati
daerah terbesar dari Lembar Poso, terdapat padaPegunungan Tokolekaju, Timeba dan Tokodoro.
Satuan ini rata-rata
mempunyaiketinggian antara +700 m sampai
dengan +2.835 m di atas elevasi muka air
laut.
·
Satuan Perbukitan
Karst ini menempati bagian
tengah dan timur Lembar
Poso.Bagian tengah memanjang dari
Poso sampai Kota dana dan dari
dekat Malino keSelatan sampai
Beteleme. Di bagian Timur
Satuan Karst berkembang setempat-setempat seperti
di Gunung Tamisari,
Betawa, Tongku, serta
di Hulu SungaiTongku.
Daerah Karst ini
dicirikan oleh permukaan
yang kasar, lereng
tajamdengan dolina lubang.
2. Stratigrafi
Kondisi stratigrafi
regional daerah penelitian
dan sekitarnya atau
di sepanjangSungai Sadang
secara umum dapat dipisahkan
menjadi 6 satuan. Berdasarkan gambarPeta
Geologi Lembar Poso oleh T.O.
Simanjuntak dkk, 1991, P3G
Direktorat GeologiBandung.
Berikut ini susunan stratigrafi regional
berurutan dari yang berumur tua :
·
Satuan Komplek Pompangeo
Satuan ini tersusun atas
sekis granit, filit, sabak,
genis, serpentinit dan kwarsit,batu
gamping malih dan
breksi setempat. Batuan
ini banyak dijumpai
dantersingkap di sekitar
daerah Perbukitan Bagian
Barat dan Timur
Danau Poso.Satuan batuan ini
diperkirakan berumur Kapur Pliosen.
·
Satuan Batugamping Malih
Satuan ini tersusun
atas pualam, batugamping
terdaunkan/foliated
limestone.Satuan batuan ini
saling menjemari dengan
Satuan Komplek Pompangeo,tersingkap di sekitar daerah Perbukitan
Bagian Barat dan Timur keluaran DanauPoso serta di sekitar daerah Batononcu. Satuan ini
diperkirakan berumur Kapur
–Pliosen.
·
Satuan Formasi Poso
Satuan ini tersusun
atas batugamping terumbu,
konglomerat batupasir dengansisipan napal. Sebagian satuan batuan ini umumnya terdapat di
Sepanjang AliranSungai Sadang
dan menumpang secara tidak selaras
di atas Batugamping Malihdan Komplek Pompangeo. Batuan ini berumur Pliosen sampai Pleitosen.
·
Satuan Formasi Puna
Satuan ini tersusun
atas batupasir, konglomerat, batulanau
dengan sisipanlempung. Satuan batuan
ini saling menjemari dengan batuan
Formasi Poso danterdapat di
Sepanjang Aliran Sungai
Sadang sampai ke
sebelah Barat TelukTomini. Satuan ini diperkirakan berumur Pliosen.
·
Satuan Endapan Danau
Satuan ini tersusun atas
lempung, pasir dan kerikil. Satuan ini umumnya terdapatdi
sekitar Danau Poso
terutama di sekitar
keluaran Danau Poso
yaitu padaTentena.
·
Aluvial
Satuan ini tersusun atas
Lumpur, lempur pasir,
kerikil dan kerakal.
Batuan iniumumnya terdapat di sepanjang
sungai.
3. Struktur dan Tektonik
Analisis terakhir
tentang tektonik di
Sulawesi disetujui dengan
menggunakanteori Tektonik
Lempeng (Sukamto, 1975, Sukamto dan
Simanjuntak 1982,
Simanjuntak1980, 1986) yang
menyatakan bahwa Geologi
Lembar Poso memperlihatkan tempatpertumbukan 3 (tiga)
Mandala Geologi.
Batuan ultramafik dan mafik
dianggap berasal dari
Lempeng Kerak
Samudera.Batuan ini bersama-sama Sedimen
Pelagas Mesozoikum
dikelompokkan menjadi LajurOfiolit
Sulawesi Timur. Lajur
ini bersama Lajur
Metamorfik Sulawesi Tengahmembentuk Mandala
Geologi Sulawesi Timur,
Manala Gelogi Sulawesi
Barat yangterdisi dari Pinggiran Benva
dan Busur Gunung api
Sundaland yang diwakili
FormasiLatimojong (Akhir Kapur)
dan Batuan Alas
serta Batuan Gunungapi
dan PlutonikTersier. Besar
Banggai Sula diwakili
oleh Sedimen Pinggiran Benva
berumur Tersierhingga Pliosen.
Jenis sesar yang
dapat dikenali ialah sesar
sungkup, sesar turun (Normal Fault)dan sesar jurus
(Horizontal Fault) mendatar.
Sistem Sesar Palu Koro
merupakan sesarutama berarah Barat
Laut-Tenggara dan menunjukkan
gerakan mendatar-mengiri, didugasesar ini
masih hidup sampai
sekarang (Tja, 1973,
Ahmar, 1975). Sesar
ini bersatudengan Sesar Matano
di Lembar Malili (Simanjuntak,
dr, 1982). Sesar Poso dan
SesarWakuli merupakan sesar naik
dan berarah ke Utara-Selatan.
Kondisi
Meteohidrologi
PLTA Pamona terletak
di Sungai Sadang yang memanfaatkan keluaran debit airDanau Poso. Sungai Sadang mengalir dari arah Selatan berawal di Keluaran Danau Posoke arah Utara
menuju Teluk Tomini. Secara
umum daerah ini mempunyai iklim
tropisyang dicirikan dengan
curah hujan cukup berkisar
antara 2.500 mm
– 3.800 mm pertahun, dengan musim hujan 8 bulan dalam setahun.
Suhu udara
relatif konstan dari
waktu ke waktu
berkisar antara 21,9q
sampai32,7qC. Sedangkan kelembaban
udara rata-rata berkisar
antara 71% -87%.
Kecepatanangin rata-rata di sekitar daerah proyek berkisar antara 1
sampai 4 knot, dan kecepatanangin rata-rata
tertinggi terjadi pada
bulan Agustus dengan
tingkat kecepatan 4 knot.Sedangkan kecepatan angin maksimum
mencapai 20 knot dengan arah angin
terbanyakbertiup dari arah Timur Laut
sekitar 45q dan hanya pada bulan Agustus arah angin bertiupdari sekitar 180q.
Luas daerah
aliran sungai di
lokasi proyek termasuk
besar, mengingat lokasirencana PLTA Pamona-2 yang terletak
di hilir Danau Poso. Luas permukaan genanganDanau Poso r
362 km2 dengan
daerah tangkapan hingga
lokasi keluaran danau
diTentena r1.340 km2.
Sedangkan luas daerah aliran
hingga lokasi rencana
pengambilanPLTA Pamona-2+-612 km2 .
Kondisi
Danau Poso
Danau Poso merupakan
danau terbesar kedua di pulau Sulawesi,
yang mempunyaidaerah tangkapan air seluas 1.755 km2, dengan luas genangan rata-rata 366 km2 . Danauini merupakan
danau alam. Tampungan
air danau dapat
diatur untuk pengembanganPLTA di sepanjang sungai Poso.
Dengan topografi yang
ada, daerah di sekitar danau bagian
hulu terdapat daerahyang cukup
landai, dan sebagian lagi
merupakan daerah yang cukup
terjal. Dari hasilpengukuran bathymetri
dan topografi disekitar
danau yang dilaksanakan
selama studiberlangsung telah
dapat dibuat grafik
hubungan antara elevasi
terhadap luas daerahgenangan dan
volume danau (Storage
Area Curve) seperti
dapat dilihat pada
gambarberikut.
Gambar 4.4
Kurva luas-tampungan Danau poso

sumber: Studi Kelayakan Teknis PLTA Pamona-2 PT.Poso Energy
Garis menggambarkan Kapasitas
Danau Poso dengan
luas dari danau
itu sendiriberbanding dengan
tingkat elevasi dari danau poso.
Dari kondisi
alam yang ada, dasar
outlet danau di daerah
Tentena mempunyaielevasi508,5
m dpl, dengan muka air
danau berdasarkan hasil
perhitungan bervariasiantara 509,7 sampai 512,7 m dari permukaan laut. Di outlet danau terletak kota Tentenayang berpenduduk
cukup padat, yang
pada saat banjir
periode ulang lima
tahunansebagian jalan di kota
tersebut (evelasi 512,25 m dpl)
selalu tergenang oleh air
danau.Dengan kondisi alam tersebut terlihat, walaupun terdapat ruang gerak
drawdown secaraalami sebesar
3 m, namun dimungkinkan
hanya dipergunakan sebesar 2-3
m saja agardaerah di sekitar danau khususnya kota Tentena aman terhadap bahaya banjir. Berikut iniadalah peta DAS Sungai Poso:
Gambar 4.5
Daerah Aliran Sungai Poso
Sumber : PT.Poso Energy
InitialOutlay (Biaya Investasi
Awal)
Nilai investasi
awal yang dibutuhkan
untuk menjalankan proyek
ini adalahsebesar Rp1.693.679.370. Investasi
terdiri dari Pre-construction, CivilWorks, Mechanical & dan Electrical
Works. Disamping itu, pembelian kendaraan
operasional,sparepart, serta fasilitas
perusahan lainnya akan
digunakan untuk menunjang
kegiatan
operasional maupun
produksi perusahaan. Investasi
terbesar dalam proyek
ini adalah
pada electrical
works, khususnya pembelian
turbin. Investasi tersebut dilakukan
untuk
mencapai kapasitas
produksi sebesar 1.439.240.400 kwh
per tahun. Biaya
investasi,
perencanaan investasi dan kegiatan pendanaan investasi adalah seperti tabel 4.1Biaya investasi
awal, yang dapat dilihat dari tabel
dibawah ini.
Tabel 4.1
Investasi Awal
Sumber : PT.Poso Energy
Investasi
Pra-Konstruksi
Rincian biaya
investasi awal untuk
kegiatan pra konstruksi
dapat dilihat padaTable
4.1 Total kegiatan
investasi ini membutuhkan total
biaya sebesar Rp.55.751.374.070. Seluruh biaya
ini dialokasikan dari modal
sendiri.Biaya ini antara laindigunakan untuk
mendapatkan perizinan pembangunan
proyek PLTA
sebesar Rp.377.777.780 dan untuk
pembelian design dan mesin sebesar Rp.
50.592.000.000.
Perusahaan juga membutuhkan investasi sebesar Rp. 4.781.596.296 yang digunakanuntuk mendapatkan kepemilikan atas lahan. Proyek ini membutuhkan lahan seluas 10.000m2di desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengahyang akan
digunakan untuk pembangunan
bangunan turbin, bangunan kantor, gudang, rumahkaryawan, rumah sakit, sekolah, dan berbagai fasilitas lainnya.
Investasi
Civil Work
Pelaksanaan proyek
pada daerah yang
terpencil, mengharuskan perusahaanmandiri dan
mempunyai fasilitas infrastruktur
yang lengkap. Pembukaan
lahan baruuntuk pembangunan infrastruktur juga
merupakan syarat mutlak yang
harus dilakukan.Perusahaan membutuhkan
suatu lapangan penerbangan
pribadi yang dapat
digunakanuntuk pengiriman logistik
dan mesin, maupun untuk
kegiatan transportasi perusahaan.Berikut ini
merupakan biaya investasi
yang dialokasikan untuk
civil work, yangmerupakan diantaranya untuk keperluan :
1. Clearing
(medium vegetation), pembersihan
lahan dari tanaman
untuk
persiapan konstruksi
2. Access Road sepanjang 3,89 km,
jalan akses dari jalan umum
menuju lokasi
Proyek
3. Cofferdam, bangunan
yang dapat berupa
urugan tanah, urugan
batu,
tumpukan karung pasir,
tiang pancang, yang digunakan
untuk menutup daerah
konstruksi dari genangan air
4. Barrage/Weir, bangunan
yang dapat terbuat dari beton,
pasangan batu ataubronjongyang dibangun melintang
suatu sungai digunakan untuk membelokan air sungai menuju intake (bangunan
pengambilan)
5. Intake & offtake Structure & Sand Trap, intake: bangunan yang digunakan
untuk mengambil air dari
sungai; offtake: bangunan
yang digunakan untuk
membuang air kembali ke
sungai; sand trap: bangunan
yang berupa sebuah
kolam yang digunakan
untuk mengendapkan pasir
yang terbawa masuk ke
intake supaya tidak masuk kedalam
waterway
6. Waterway
Open Channel, bangunan
yang berupa saluran
terbuka yang
digunakan untuk mengalirkan
air dari intake/sand trap menuju head pond
7. Head
Pond, bangunan yang
berupa kolam dengan
kedalaman cukup,
digunakan untuk pengambilan
air menuju ke pipa pesat (penstock); penstock:
pipa yang digunakan untuk mengalirkan air bertekanan dan kecepatan
tinggi
dari headpond menuju ke turbin
8. Terminal Valve House, bangunan yang didalamnya terdapat katup utama
9. Power
House, bangunan yang
didalamnya terdapat peralatan-peralatan
pembangkit
10. Tail Race
Structure, bangunan yang
dapat berupa saluran
terbuka atau
tertutup, digunakan untuk
menyalurkan air buangan
dari turbin menuju
ke
sungai
11. General Construction
Facilities, fasilitas konstruksi
umum, seperti jalan,
jembatan, drainase, kantor
proyek, perumahan proyek,
gudang, peralatan
konstruksi, tempat penyimpanan
material.
Mechanical And Electricity
1. Radial
gate, pintu air
yang permukaannya berupa
busur lingkaran dan
memiliki as pada pusat lingkaran
2. Stoplog
at Radial Gate,
batang-batang yang terbuat
dari baja atau
beton,
digunakan untuk membendung
air di sebelah
hulu radial gate
pada saat
perbaikan
3. Intake Gate,
pintu air yang berada di intake, digunakan untuk menghentikan
pengambilan air dari sungai
pada saat pemeliharaan
4. Stoplog
at intake gate,
batang-batang yang terbuat
dari baja atau
beton,
digunakan untuk membendung
air di sebelah
hulu intake gate
pada saat
perbaikan
5. Trashrack
at intake gate:
kisi-kisi yang terbuat
dari baja, diletakkan
di
sebalah hulu intake gate,
digunakan untuk menahan sampah agar tidak masuk
kedalam saluran
6. Off takegate: pintu air
yang terletak di sebelah
hilir turbin, digunakan untuk
menutup air supaya masuk
kedalam turbin pada saat pemeliharaan
7. Stoplog
at off take gate,
batang-batang yang terbuat
dari baja atau beton,
digunakan untuk membendung
air di sebelah
hilir offtake gate
pada saat
perbaikan
8. Flushing
gate, pintu air
yang digunakan untuk
menguras pasir yang
mengendap didalam sand trap
9. Stoplog
at flushing gate, batang-batang yang
terbuat dari baja
atau beton,
digunakan untuk membendung
air di sebelah
hulu flushing gate
pada saat
perbaikan
10. Trashrack at penstock, kisi-kisi yang terbuat dari baja, diletakkan di sebalah
hulu penstock,
digunakan untuk menahan sampah agar
tidak masuk kedalam
penstock
11. Penstock valve, katup yang berada pada penstock, digunakan untuk menutup
aliran didalam penstock pada
saat pemeliharaan
12. Penstock steel
pipe, pipa yang
terbuat dari baja,
digunakan untuk
mengalirkan air bertekanan
dan kecepatan tinggi dari
headpond menuju ke
turbin
13. Turbin & generators, turbine: suatu peralatan yang apabila dialiri air
dapat
berputar; generator: sebuah
peralatan yang digunakan untuk
mengubah energi
gerak turbin menjadi energi
listrik
14. Overhead travelling crane, peralatan pengangkat yang berada di bagian atas
powerhouse, dapat berjalan
di sepanjang powerhouse,
digunakan untuk
mengangkat peralatan-peralatan yang
berada didalam powerhouse
selama
perawatan
15. Miscellaneous meta,
bermacam-macam pekerjaan baja
atau bahan logam
lainnya
16. Electrical Works,
pekerjaan yang berhubungan dengan
peralatan listrik
Aspek Pemasaran
Kondisi Kelistrikan di
Indonesia
Salah satu
sarana dan prasarana yang memadai
untuk menunjang kepentingan
dankegiatan sehari-hari diantaranya adalah
kebutuhan akan listrik.
Penyediaan
danpendistribusian listrik saat ini
di Indonesia merupakan wewenang dan
tanggung jawabpemerintah yang
pelaksanaannya didelegasikan kepada
PT Perusahaan Listrik
Negara(PLN). Instansi ini
juga bertindak sebagai
Pemegang Kuasa Usaha
Ketenagalistrikan(PKUK) yang menangani
penyediaan tenaga listrik
bagi kepentingan rumah
tangga,industri, usaha komersial dan
kegiatan sosial di Indonesia.
Kebutuhan
tenaga listrik di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun, namun belum didukung oleh adanya peningkatan daya listrik yang sesuai. Kondisiini tentunya
sangat menghawatirkan dikarenakan
kekurangan suplai listrik
akan terusterjadi. Pemadaman
listrik secara bergilir
telah dilakukan di beberapa
wilayah sepertiwilayah Sumatera, Kalimantan dan
Kawasan Timur Indonesia lainnya.
Suplai listrik diwilayah Jawa-Bali
sementara ini masih
dalam kondisi yang
cukup aman namundiprediksikan dapat
terjadi kelangkaan listrik
apabila pembangunan pembangkit
barutidak dapat terealisasi sesuai
dengan kebutuhannya.
Hingga saat
ini penyediaan tenaga
listrik di Indonesia
masih belum mampumemenuhi
kekurangan suplai listrik secara nasional. Berdasarkan
data PT PLN, daerahkritis
ketenagalistrikan di Indonesia dapat
dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 4.6
Daerah Kritis Listrik Indonesia
Dari gambar diatas
terlihat bahwa di wilayah Sumatera sebagian
besar masih termasukdalam daerah kritis
karena kurangnya cadangan daya
listrik, terutama untuk memenuhikebutuhan
listrik saat peak load. Berdasarkan
Standard PT. PLN (Project Assesment ofSystem Adequacy) bahwa cadangan operasi (Reserve Margin) yang normal adalah di atas30% (> 30%)
Kondisi Kelistrikan di Sulawesi
Sistem kelistrikan yang
ada di kepulauan
Indonesia belum sepenuhnyaterintegrasi dengan
jaringan transmisi. Saat
ini yang telah
terintegrasi hanya sistemkelistrikan Jawa-Madura-Bali dengan
jaringan transmisi 500
KV. Sedangkan sistemkelistrikan di luar pulau
Jawa-Madura-Bali dan Sumatera
merupakan sistem kelistrikanyang relatif
belum berkembang, dimana
satu sama lain
belum
sepenuhnyaterinterkoneksi. Sistem
masih terdiri dari sub-sistem dan sub-sistem kecil yang masing-masing terpisah satu sama
lain dan masih terdapat
daerah-daerah terpencil yang berdirisendiri dan terisolasi.
Secara
umum, pertumbuhan pembangkit listrik di berbagai
wilayah di Indonesiadapat berpengaruh
terhadap pertumbuhan listrik
nasional karena dengan
pertumbuhantersebut menyebabkan
adanya interkoneksi jaringan pada
beberapa daerah yang denganjaringan listrik nasional.
Dalam era otonomi
daerah, pembangunan ekonomi di
daerah diperkirakan
akantumbuh lebih cepat dibanding dengan
Jawa. Pertumbuhan ekonomi
ini sejalan denganpertumbuhan kebutuhan
energi termasuk tenaga
listrik. Masalah utama
yang perludiperhatikan untuk
wilayah di luar Jawa adalah antar
wilayah belum dihubungkan
denganjaringan transmisi dan
beban yang tidak
berimbang antara siang
hari (off-peak) danmalam
hari (peak). Kondisi ini menyebabkan umumnya
pembangkit yang dioperasikanadalah pembangkit yang mempunyai
waktu awal operasi (start-up) cepat dan fleksibel,antara lain PLTD, PLTA dan PLTG.
Rencana Pembangunan PLTA
Pamona-2
Mengacu kepada Gambar
3.5 mengenai daerah kritis
listrik di Indonesia, untuk
pulau Sulawesi
khususnya Sulawesi selatan
mempunyai kapasitas sebesar
362 MWdengan kebutuhan sebesar
453 MW dan mengalami kekurangan sebesar – 91
MW. Inijuga dikarenakan pembangkit
yang ada di
Sulawesi Selatan digunakan
untukmenghantarkan listrik untuk
daerah–daerah di sekitarnya yakni Sulawesi
Tengah danSulawesi Tenggara, sehingga dibutuhkan pasokan listrik yang lebih besar di kawasan inisehingga bisa mencukupi dan tidak menghambat kegiatan perekonomian di
Sulawesi.
Pembangunan kelistrikan merupakan
kebutuhan yang sangat
mendesak,mengingat kapasitas
listrik yang ada saat ini di
Sulawesi Tengah belum mampu
melayanipermintaan untuk kegiatan industri
skala besar. Sulawesi Tengah memiliki potensi untukpembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Air
(PLTA) baik yang berkapasitas
rendah,sedang dan besar, antara
lain potensi air Danau Lindu di Kabupaten Donggala dan SungaiPoso di Kabupaten Poso, yang mampu mensuplai kebutuhan listrik di Propinsi
SulawesiTengah dan propinsi
lainnya di Sulawesi.
Potensi ini sangat
prospektif untuk jangkamenengah dan jangka panjang guna memenuhi kebutuhan tenaga listrik Sulawesi Tengahdan Pulau Sulawesi pada umumnya.
PT Poso
Energy berencana membangun
PLTA Pamona-2 dengan
kapasitasterpasang # 3 x 65
MW, yang berlokasi di Kabupaten
Poso, Propinsi Sulawesi Tengahdan
termasuk wilayah pengusahaan
PT PLN (Persero)
Wilayah VII. Pembangunanpembangkit listrik ini
merupakan salah satu upaya untuk
menambah daya listrik sekaligusmengurangi
krisis listrik di wilayah Sulawesi yang
terjadi selama ini.
Pembangunann
PLTA di daerah Poso ini selain untuk melayani kebutuhan daerahsekitar proyek
(Sulawesi Tengah), juga
diharapkan dapat mendukung
pelayanankebutuhan tenaga
listrik di seluruh Sulawesi, khususnya industri tambang yang
tersebardi Sulawesi Selatan
dan Tenggara. Pembangunan
PLTA Pamona-2 yang
terletak diSungai Poso
dengan sumber airnya
berasal dari Danau
Poso, Sulawesi Tengah, merupakan bagian
yang sangat penting
dalam rangka untuk
mendukung kebutuhantenaga
listrik tersebut.
Penetapan Harga Jual (Tarif)
Listrik
Berdasarkan draf Power
Purchasing Agreement (PPA)
antara PT PLN (buyer)dengan PT
Poso Energy (seller),
harga jual listrik
PLTA Pamona-2 kepada
PT PLNterdiri dari 5 komponen
tariff yaitu :
Analisis Dampak Lingkungan
Pelaksanaan Proyek PLTA
Pamona-2 berpotensi
menimbulkan berbagai dampakatau
pengaruh terhadap lingkungan, baik pada
tahap pra-konstruksi, tahap konstruksi,
dantahap operasi. Berikut ini akan
duraikan komponen lingkungan yang
diperkirakan akanterkena dampak oleh adanya kegiatan pembangunan Proyek PLTA Pamona-2.
Berdasarkan Kepmen
Lingkungan Hidup Nomor:
KEP-03/MENLH/2000 tahun2000
tentang Jenis Usaha dan /atau
Kegiatan Yang Wajib
Dilengkapi dengan AMDAL,maka proyek
pembangunan PLTA Pamona-2 dengan kapasitas 195 MW, perlu dilakukanAnalisis Dampak
Lingkungan (AMDAL) karena kapasitas
total pembangkit di atas
50MW.
Saat ini rencana pembangunan
PLTA Pamona-2 oleh
PT Poso Energy
telahdilengkapi dengan
Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), RKL,
dan RPL , dan jugatelah disetujui oleh Bupati Poso No. 670.21/162/Bapedal, tanggal 3
Agustus 2005.
Dampak Pada Tahap Pra-produksi
Komponen kegiatan
pada tahap pra-konstruksi yang
diperkirakan
akanmemberikan dampak terhadap
lingkungan adalah kegiatan
sosialisasi, publikasi, danpembebasan lahan
untuk proyek PLTA
Pamona-2. Secara umum
dampak yangdiperkirakan
terjadi adalah timbulnya persepsi masyarakat. Dampak ini dapat dieliminasi bila dilakukan
pendekatan kepada masyarakat secara terus menerus dan berkesinambungan.
Dampak Pada Tahap Konstruksi
Komponen
kegiatan pada tahap
konstruksi yang diperkirakan akan
memberikandampak terhadap
lingkungan adalah kegiatan
landclearing dan pengurugan pada
tapakproyek, pengangkutan
material, pembangunan bangunan
utama, penyerapan tenaga kerjadalam
rangka pelaksanaan pembangunan proyek
PLTA Pamona-2. Secara umum dampakyang
diperkirakan terjadi adalah sebagai
berikut:
·
Penurunan kualitas udara dan
peningkatan intensitas kebisingan
·
Perubahan Aliran Permukaan
·
Material tanah yang tercecer
·
Perubahan Biota (biota darat dan biota air)
·
Mata Pencaharian dan pendapatan
Dampak Pada Tahap Operasi
Dampak lingkungan yang diperkirakan
terjadi pada tahap operasi bersumber
daripengoperasian PLTA dan
penyerapan tenaga kerja.
Secara umum dampak
yangdiperkirakan terjadi adalah
sebagai berikut:
·
Penurunan kualitas dan kuantitas
air
·
Estetika lingkungan
·
Pemanfaatan ruang (perubahan struktur ruang)
·
Perubahan ctra kawasan
·
Peningkatan volume lalu lintas
·
Ketenagakerjaan
·
Mata Pencaharian dan pendapatan
·
Kenyamanan
·
Persepsi masyarakat
Berikut ini
akan diuraikan ANDAL, Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL)
danRencana Pemantauan
Lingkungan (RPL) yang telah
disiapkan sebagai antisipasi dalamrangka pembangungan PLTA Pamona-2
Aspek Keuangan
Perencanaan Sumber Pendanaan
Biaya investasi
awal yang dibutuhkan
proyek ini akan
berasal dari kombinasipinjaman bank
dan penyertaan modal PT.
Poso Energy. Perbandingan
biaya investasitersebut sebesar
60,34 dan 39,66%, seperti yang
digambarkan pada tabel di bawah ini.
Jadwal Penarikan
Pinjaman Pokok Bank
Penarikan pinjaman pokok bank akan
dilaksanakan dalam jangka waktu periodepembangunan (3 tahun)
dengan perincian seperti pada Tabel 4.3

Pembayaran Pinjaman
dan IDC
Pembayaran
cicilan pokok dan beban bunga akan dilaksanakan mulai dari kuartalpertama tahun keempat, dan
diharapkan akan selesai pada kuartal
keempat tahun ke-8.Rinciannya adalah seperti pada tabel 4.4.


Pinjaman IDC
akan dibayarkan pada tahun
keempat mulai dari kuartal pertama
hingga ke-4, yang
dapat dilihat pada Tabel 4.4.1

Asumsi-asumsi
Dalam menganalisis
kelayakan investasi pada
proyek Hydro Power Poso-3
inidigunakan asumsi-asumsi seperti
pada Tabel 4.5



Pengaruh Krisis Global Terhadap
Asumsi Studi Kelayakan PLTA Pamona-2
Perubahan asumsi akibat
krisis ekonomi global yang
terjadi pada proyek
PLTAPamona 2 seperti pada
Tabel 4.5 khususnya nilai tukar
yang mengalami kenaikan dariRp9500/USD menjadi Rp11.000/USD akan
menyebabkan nilai investasi menjadi besar,sehingga dikhawatirkan proyek
ini menjadi tidak
layak. Untuk mempertahankankelayakan proyek
ini, maka harga
jual kepada PLN
harus dinaikkan. Harga
yangdisepakati saat ini adalah
0.04 USD/KWH. Krisis ekonomi global ini dikhawatirkan jugaakan menaikkan biaya
operasional proyek, sehingga akan
memperburuk kondisi usaha.
Proyek PLTA
Pamona 2 sampai
saat ini masih
dalam tahap konstruksi
danmenyisakan waktu satu
tahun lagi sebelum
beroperasi secara penuh.
Dengan adanyaperubahan mendasar
pada asumsi–asumsi seperti
nilai tukar dan
biaya operasionalpenulis ingin
melihat seberapa besar
pengaruh perubahan asumsi
tersebut terhadapkelayakan proyek
ini.
Proyeksi laporan keuangan
Proyeksi Laba Rugi
Proyeksi laba
rugi digunakan untuk
melihat kinerja operasional
perusahaanselama periode proyeksi.
Laba rugi merupakan
bentuk laporan keuangan
yangmenyajikan semua bentuk
pendapatan dan biaya dalam satu tabel. Proyeksi laba-rugi PT.Poso Energy dapat dilihat
pada Lampiran rugi laba PT. Poso
Energy baru mendapatkanrevenue
setelah tahun ketiga karena sebelumnya
merupakan tahap konstruksi.
4.7.2 Proyeksi Pendapatan
Pendapatan perusahaan adalah perkalian
komponen dari harga dan volume dayalistrik yang dijual. Volume penjualan
didapat dengan mengasumsikan
utilisasi kapasitaspembangkit listrik
selama periode proyeksi
(2007-2037. Sedangkan harga
jual sesuaidengan kontrak jangka panjang
dengan PLN, yaitu sebesar
0.04/KWH (lihat Lampirannew sales
& Omr) dengan tingkat kapasitas per tahunnya sebanyak 2.992.000.000 KWH.Menurut Direktur
Operasional PT.Poso Energy, pembangkit
listrik ini akan beroperasipada tingkat
kapasitas produksi sebesar
65% dari maksimal
kapasitas produksi yakni80% karena dengan tingkat utilisasi mesin tersebut bisa menjaga keadaan fisik dari mesinyang
dioperasikan.
4.7.3 Proyeksi HPP
Dampak dari
krisis global yang
juga berimbas pada
naiknya komponen –komponen pembentukan harga/unit
karena data yang ada pada PT.Poso
Energy terbatasmaka penulis hanya
memberi gambaran terhadap harga pokok PT.Poso
Energy sudahmenetapkan dari
awal bahwa harga pokok
penjualan listrik adalah
sebesar 13 %
daripendapatan. Jadi pendapatan
lah yang menentukan besar dari HPP
4.7.4 Proyeksi Biaya Operasional
Beban usaha
memiliki tiga komponen utama yaitu Beban
Administrasi, Overhead,dan Beban
Lain-lain (Miscellanius) tetapi
proporsi biaya operasional
tidak lah begitusignifikan jadi tidak dicantumkan dalam studi ini.
4.7.5 Proyeksi Pendapatan (Beban)
Lain-lain
Nilai proyeksi
pendapatan (beban) lain-lain
terdiri dari beban
bunga dankeuntungan (kerugian)
kurs. Variabel beban bunga
didapatkan dari pembayaran bungapinjaman jangka panjang dan pinjaman jangka pendek.
Perubahan kurs dari
waktu ke waktu menyebabkan nilai utang
dalam mata uangasing dikonversi kedalam rupiah
akan berubah-ubah, naik atau
turun. Bila kurs rupiahterhadap dolar
melemah maka utang akan
membesar atau mengalami
kenaikan begitupula sebaliknya
bila kurs rupiah
menguat terhadap
dolar maka utang
mengecil.Keuntungan dan kerugian
kurs terjadi karena perusahaan menggunakan pinjaman
dalammata uang USD. Dalam
proyeksi ini diasumsikan kurs tetap
pada Rp9.500/USD sehinggatidak terjadi keuntungan dan kerugian kurs.
4.7.6 Proyeksi CashFlow
Proyeksi
cash flow terdiri dari dua bagian yaitu penerimaan kas dan pembayarankas. Penerimaan
kas terdiri dari penerimaan
penjualan, tagihan piutang usaha,
piutanglain-lain, dan uang muka dan
biaya dibayar di muka
(sebagai pengurang).
Pengeluarankas terdiri dari pembayaran utang
usaha, pembayaran utang
bunga, biaya yang
masihharus dibayar, utang
lain-lain, uang muka, gaji dan upah, beban administrasi dan umum, dividen , cicilan
utang bank, pajak, dan pengeluaran
investasi fixed asset.
Pada proyeksi
cash flow selama 30
tahun tidak ada
tambahan pendanaan barukarena
tidak ada tambahan investasi
mesin baru dan
juga tidak terjadi cash
shortage. Cash flow PT.Poso
Energy mengalami minus
pada awal periode
ketika diberlakukanproses konstruksi.
Sehingga pada tahun
pertama, ending balance
akan menjadi (509.681.115) Dan menjadi
positif ditahun ke 6 menjadi Rp623.619.583 seperti dilihatpada Lampiran
– Cashflow dan
Cash inflow dari
PT.Poso Energy didominasi
olehoperating profit yang masih
minus. Baru tahun ke 4 lah maka
operating profit bisa positifkarena mulai ada
Pinjaman Bank yang lebih besar
dibanding 2 tahun sebelumnya
.danpada tahun ke 4 sudah mulai ada penerimaan dari operating profit sehingga cash
inflowmenjadi positif.
4.7.7 Proyeksi Neraca
Neraca
menyajikan posisi aset, utang, dan
modal pada tanggal tertentu. Proyeksineraca merupakan alat control
terhadap kebenaran angka-angka
proyeksi, dimana neracatersebut
harus balance. Pada neraca PT.Poso Energy (Lampiran Neraca) pada tahun 1-3Total Aset PT.Poso Energy dalam keadaan minus, ini
dikarenakan komponen dari asset
PT.Poso Energy seperti Cash and
bank mengalami minus sampai dengan tahun
ke5. pada tahun ke 6 akan positif
sebesar Rp645.976.007
Sedangkan disisi
hutang, dari tahun
1 – 6
ada hutang dalam
neraca PT.PosoEnergy dan pada tahun
ke 7 sudah tidak ada lagi
hutang yang terjadi. Ini menunjukkanPT Poso Energy
sudah lepas dari Hutang dan
bisa beoperasi dengan tambah baik.
Dandari sisi equitynya
maka kita bisa
melihat equity positif
ditahun ke 4
sebesarRp508.171.726total
hutang dan modal
juga sama yakni
di tahun ke-4
baru akanmenyentuh level positif. Dengan begitu
PT Poso Energy bisa bekerja dengan lebih
baiklagi pada tahun
ke 4 perjalanannya
yang sekarang baru
memasuki tahun ke
3 yaknipenyelsaian konstruksi.
4.7.8 AnalisisProfitabilitas
Pada tiga
tahun pertama merupakan
periode konstruksi, sehingga
belum adapendapatan pada periode
tersebut. Pada tahun keempat PT
Poso Energy akan
memulaiberproduksi. Pada periode
konstruksi total kerugian tercatat
sebesar (Rp106.114.856) Cash
shortage sebesar Rp106.114.856 akan ditutupi
dengan pinjaman dan modal
sendirimasing-masing Rp636.668.914 dan Rp42.445.943
Setelah itu penerimaan akan diterimasecara rutin tiap tahunnya oleh PT Poso Energy dimulai dari tahun ke 4 – 30
dan hutangakan dilunasi pada tahun ke
5.
4.7.9 Analisis Rasio
Keuangan
Analisis
ini sebagai penambah informasi dengan
melakukan pengolahan data padaneraca dan
laporan laba rugi. Rasio Keuangan PT.Poso Energy bisa
dilihat di LampiranRasio Keuangan
PT.Poso Energy.
4.7.9.1 Liquidity Ratio
Perusahaan memiliki
cukup kemampuan untuk
memenuhi kewajiban lancardengan tepat waktu yang ditandai dengan nilai current ratio di atas 1. Begitu pula denganquick ratio dengan
nilai yang juga lebih
dari 1 menandakan bahwa kas
dan setara kasperusahaan memungkinkan
untuk membayar kewajiban lancar. Namun
dengan adanyapenurunan nilai current ratio
dan quick ratio dari tahun ke tahun
harus diwaspadai olehmanajemen
perusahaan agar tidak terjadi penundaan
pelunasan kewajiban jangka pendek.
4.7.9.2 Activity Ratio
Secara
keseluruhan efektifitas perusahaan
penggunaan sumber daya yang
dimilikidalam semakin membaik dari tahun
ke tahun. Nilai current asset turnover
dan fixed assetturnover perusahaan
relatif stabil menandakan kemampuan
perusahaan untuk memutaraset menjadi penjualan cukup stabil yakni
sebesar 0.46 dan 0.32 pada awal
tahun 1 danterus bergerak stabil dikisaran itu.
4.7.9.3 Leverage Ratio
Perusahaan dibiayai oleh
sedikitnya 60% menggunakan utang.
dan 40 % equityini
menunjukkan kemampuan leveragenya adalah sebesar 1.16 pada awal tahun dan debtrationya pada
awal tahun yang
mencapai 0.54 dan
akan terus disekitar
itu dan tidakmelebihi 0.6.
4.8 Profitability
Ratio
Laba
bersih PT Poso Energy dari tahun ke
tahun diperkirakan dapat
memberikantingkat pengembalian yang
positif bagi pemilik.
Rata-rata tingkat pengembalian
(PM,ROI, atau ROE) mencapai 33%
kepada pemegang saham (ekuitas) setiap
tahunnya.
4.8.1 Perhitungan NPV, IRR, Payback Periode, B/C
Ratio
Dengan adanya asumsi-asumsi baru yang berubah seperti nilai tukar, kapasitas produksi,harga jual,
dan juga biaya-biaya
yang digunakan
untuk proses operasi
makaperbandingan proyeksi NPV,
IRR, Payback periode, dan B/C ratio
antara studi kelayakanusaha semula (original)
dengan perhitungan ulang yang penulis
lakukan adalah sebagaiberikut:

4.8.1.1 NPV
Pada studi
kelayakan awal, proyek PLTA
Pamona-2 mempunyai NPV
sebesarRp6.014.970.336. Sebelum
krisis ekonomi global nilai tukar
rupiah terhadap dolar
yangdigunakan adalah Rp9.500/USD dan
biaya-biaya biaya
operasional diasumsikan sepertipada lampiran (new
omr and sales) Dalam perhitungan studi kelayakan tersebut proyekPLTA Pamona-2 sangat layak
untuk dilakukan. Tetapi dengan
adanya krisis global
yangmenyebabkan naiknya nilai
tukar yang sempat
menyentuh level Rp11.000/USDmengubah NPV
menjadi Rp5.849.240.709 Hal
ini menunjukkan bahwa
berubahnyaasumsi pokok yang dipengaruhi oleh krisis
ekonomi global, terutama nilai tukar
rupiahterhadap dolar Amerika
Serikat tidak berdampak langsung
terhadap perubahan nilai NPVproyek PLTA tersebut, sehingga
proyek masih layak untuk
dijalankan. Dengan sedikitmempengaruhi NPV proyek.
Studi ini
hanya menekankan pada aspek komersial dari pembangunan PLTA tersebutdan tidak
melihat pada benefit
yang diciptakan oleh
proyek tersebut terhadapperkembangan ekonomi
daerah di sekitarnya
(social appraisal). Jika
proyek ini tidaklayak
secara komersial, tetapi dibutuhkan oleh pemerintah daerah
untuk mempercepatpembangunan di
daerah tersebut, maka selayaknya
pemerintah daerah mengkaji
ulangproyek PLTA ini dengan
menggunakan pendekatan
social appraisal. Jika benefit
yangdiberikan oleh proyek tersebut dinilai
jauh lebih besar dari
pada yang dihitung
secarakomersial, maka proyek tersebut
layak untuk dilaksanakan, misalnya
penerapan tenagakerja, munculnya
usaha baru dalam
kehidupan masyarakat di
daerah sekitarnya yangpada gilirannya meningkatkan pendapatan dan perekonomian secara umum
dimana nilaitambah yang dihasilkan
dapat melebihi NPV
yang negatif dalam
perhitungankomersialnya. Studi ini belum
mempertimbangkan social appraisal
tersebut.
4.8.1.2 Internal Rate of
Return (IRR)
IRR Proyek
PLTA Pamona 2
sebelum dan sesudah
mempertimbangkanperubahan asumsi
setelah krisis global adalah
sebesar 42.89% pada saat sebelum
krisisdan 42.04% setelah
krisis. Perubahan IRR
tersebut hanya disebabkan oleh perubahannilai tukar
rupiah terhadap USD
dari Rp9.500/USD dan
Rp11.000/USD.
Inimenunjukkan kelayakan proyek
dilihat dari pengembaliannya yang
mencapai 42%meskipun dunia
sedang dilanda krisis
ekonomi global. Dan
tingkat pengembalian inisangatlah besar disaat ekonomi sedang mengalami resesi.
4.8.1.3 Payback Period
Pada tabel
4.8 tampak bahwa perhitungan studi kelayakan proyek ini sebelumnyadapat mengembalikan
investasi awalnya dalam
waktu 4 tahun.
Tetapi setelah adanyaperubahan kurs
payback period PLTA
Pamona-2 menjadi 5
tahun. Ini dikarenakanhutang bank yang harus dibayarkan oleh PLTA Pamona 2 pada 3 tahun pertama dan akanlunas dalam
jangka waktu 5
tahun. Berarti proyek
PLTA Pamona 2
memiliki tinkatperiode
pengembalian yang baik ketika dunia
sedang dilanda krisis ekonomi global.
4.8.1.4 B/C Ratio
Pada
Tabel 4.8 tampak bahwa B/C
ratio proyek PLTA Pamona 2 sebelum krisissebesar 7.51% ini
menunjukkan bahwa benefit yang bisa
didapat dari PLTA Pamona 2terhadap
biayanya sangat besar.
Rasio tersebut sangat
bagus karena cash flow
positifyang dihasilkan jauh
lebih besar daripada
negatifnya. Tetapi setelah
krisis B/C Ratiomenjadi 3.58 %,
ini menunjukkan bahwa benefit yang
diperoleh oleh proyek ini masihbagus karena hasil penghitungan B/C ratio nya yang positif.
4.9 Analisis Sensitivitas
Dalam melakukan analisis sensitivitas, suatu asumsi
diubah sementara yang laintetap. Analisis
sensitivitas memiliki kelemahan
yaitu apabila perubahan
suatu asumsiberubah tidak
akan mempengaruhi asumsi
lain. Contoh apabila
penulis melakukanperubahan
terhadap harga jual listrik tidak akan menyebabkan turunnnya pelanggan atauPLN tetap membelinya karena listrik merupakan kebutuhan yang utama bagi masyarakatindonesia.
Jadi penulis akan melakukan
perhitungan sensitivitas beberapa
asumsi pokokyang akan dibandingkan
dengan kelayakan proyek
dilihat dari NPV. Setelah itu
penulisberharap akan bisa melihat kekhawatiran dari masyarakat tentang
pembangunan proyekini ditengah krisis ekonomi global yang tengah terjadi.

4.9.1 Analisis
Sensitivitas Harga Jual Listrik Terhadap
NPV
Pada Tabel 4.11
tampak bahwa harga
jual listrik dapat
diturunkan sampai
Rp.107/KWH dengan
asumsi kurs tetap
Rp9.500/USD, maka harga
jual dapat
diturunkan sampai
dengan Rp107/KWH. Hal ini
menunjukkan bahwa harga jual tidak
sensitif terhadap kelayakan
proyek. Bahkan bila kurs
menjadi Rp11.000/USD, maka
harga jual
dapat diturunkan sampai
Rp114/KWH.Dengan demikian proyek
tetap
layak dibangun.
Pada Tabel 4.1.1 juga
dijelaskan bahwa sensitivitas dari kurs USD terhadap NPV
PLTA Pamona
2, dimana dengan
nilai tukar Rp11.000/USD1, maka
NPV akan
menjadi 5.849.240.170 dengan
demikian proyek tetap layak untuk dilaksanakan dan
tidak akan ditunda pembangunannya. Karena proyek tidak sensitif terhadap asumsi –
asumsi ini.
Dengan demikian proyek
tidak sensitif terhadap
harga jual listrik.
Ini
dibuktikan dengan ketahanan proyek
untuk dapat menerima harga
sampai serendah
Rp 107/kwh. Disaat NPV
menunjukkan angka 0.
Begitu juga untuk OMR
dari perusahaan yang
awalnya given, yakni
13% dari
revenue tidak sensitif terhadap kelayakan proyek. Ini ditunjukkan oleh ketahanan dari
NPV yang
bisa menerima OMR
perusahaan sampai 85%
dari revenue. Ini
menunjukkan proyek
sangatlah layak untuk
dijalankan. Dan biaya
OMR tidak
signifikan sehingga membuat proyek
bisa tetap berjalan jika
biaya OMR mencapai
85% dari total revenue
Jadi kekhawatiran
bahwa proyek akan terganggu oleh
krisis ekonomi global
tidak
terbukti. Kekhawatiran
dari proyek untuk tidak dilanjutkan lebih
besar dipengaruhi
oleh pembiayaan awal proyek.
Jika pembiayaan awal tidak
ada atau terganggu maka
proyek terancam untuk
dihentikan.








Komentar
Posting Komentar