Tugas Lainnya
Sepakbola dan Politik
Dalam statuta FIFA
pasal 17, yang lalu diratifikasi oleh negara-negara anggotanya, termuat bahwa
setiap federasi sepak bola negara anggota FIFA harus bebas dari intervensi
pemerintah. Lebih jauh, dalam pasal itu dinyatakan bahwa sepak bola harus
independen, harus bebas dari unsur politik, termasuk politisasi.
Jika melihat tujuan awal
penciptaannya, pasal ini tercipta, karena FIFA belajar dari pengalaman masa
lalu, yang berawal pada pertengahan dekade 1930-an. Pada kurun waktu ini, FIFA
menggelar dua edisi turnamen Piala Dunia, yaitu pada tahun 1934 (di Italia),
dan 1938 (di Prancis). Dua edisi ini merupakan tindak lanjut dari suksesnya
gelaran Piala Dunia 1930 di Uruguay. Prestise turnamen Piala Dunia, yang sejak
edisi pertamanya mampu melampaui Olimpiade cabang olahraga sepakbola, mampu
menarik atensi dunia.
Situasi makin menarik, dengan
ditunjuknya Italia sebagai tuan rumah tahun 1934. Hal ini lalu dimanfaatkan
pemerintahan fasis Italia-nya Musollini sebagai kendaraan politik, demi
melancarkan misi propaganda pencitraan positif kepada dunia. Targetnya jelas; juara
dunia. Untuk memenuhinya, Italia menaturalisasi beberapa pemain timnas
Argentina, dan Brasil yang berdarah Italia, misalnya, Omar Sivori (Argentina).
Ketika itu, tindakan ini
legal, karena belum adanya aturan FIFA tentang naturalisasi pemain asing. Berkat
kebijakan naturalisasi ini, Italia sukses membangun tim kuat, sekaligus
melemahkan kekuatan timnas Brasil dan Argentina. Situasi makin
menguntungkan Italia, saat Uruguay (juara Piala Dunia 1930) menolak
berpartisipasi dalam turnamen. Hasilnya, Italia asuhan Vittorio Pozzo mampu
meraih juara dunia tahun 1934 dan 1938. Tapi, sejarah mencatat Benito
Musollini, sebagai penguasa pertama, yang terang-terangan mempolitisasi
sepakbola.
Setelah Perang Dunia II,
politisasi dalam sepak bola masih terjadi di Eropa. Terutama pada pertengahan
dekade 1950an-1960an. Pada kurun waktu ini, politisasi dalam sepak bola
dilakukan oleh pemerintahan fasis Jenderal Fransisco Franco (Spanyol), dengan
Real Madrid dan Timnas Spanyol sebagai kendaraan politiknya. Tak heran, sikap Franco
ini, membuatnya begitu dibenci di Catalonia, daerah asal klub FC Barcelona,
musuh bebuyutan El Real. Akibat Franco pula, atmosfer laga El Clasico terasa
begitu panas hingga kini. Karena, laga klasik ini menjadi simbol pertarungan,
antara pemerintah pusat Spanyol versus Catalonia.
Dalam kurun waktu ini, dengan
dukungan penuhnya, Real Madrid menjadi penguasa di Liga Spanyol dan Piala
Champions Eropa. Tercatat, Si Putih mampu menjuarai Piala Champions Eropa lima
kali beruntun dalam kurun waktu 1956-1960. Pada era pemerintahannya pula,
Turnamen Piala Raja Spanyol (Copa Del Rey), diganti namanya menjadi Copa Del
Generalisimo (Piala Jenderal).
Di level timnas, politisasi
sepakbola ala Franco terjadi pada gelaran Piala Eropa edisi 1960 dan 1964. Pada
edisi 1960, Timnas Spanyol menolak bertanding melawan Uni Soviet di
perempatfinal. Alasannya, Uni Soviet adalah pendukung Kaum Republikan, lawan
Franco pada masa Perang Sipil di Spanyol (1936-1939). Sedangkan, pada Piala
Eropa edisi 1964, ketika Spanyol menjadi juara setelah mengalahkan Uni Soviet
di final, Franco menganggap kemenangan ini sebagai 'kemenangan keduanya atas
Uni Soviet'.
Begitu pula ketika musim
lalu tepatnya saat kompetisi Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 ketika Komisi
Disiplin PSSI menghukum Persib Bandung dan
Bobotoh dengan denda karena membuat sebuah koreo dengan tulisan ‘Save
Rohingya’, kemarahan langsung muncul di media sosial. PSSI dianggap
mengada-ada, memberikan hukuman untuk sebuah aksi yang kemanusiaan di atas
tribun. Bobotoh kemudian ‘membalasnya’ dengan sebuah aksi menarik: uang denda
yang harus dibayarkan Persib tidak diambil dari uang kas klub melainkan
menggunakan hasil saweran dengan uang koin.
Walau kemarahan Bobotoh
bisa dimengerti, sikap Komdis PSSI juga sebetulnya bisa dimengerti. Layaknya
solidaritas untuk Palestina yang sudah ditunjukkan oleh baik pemain maupun
suporter, jika dilakukan di dalam stadion, pihak otoritas bisa saja
menganggapnya sebagai sebuah aksi politik/aksi yang menyangkut SARA.
Bukan hanya PSSI saja
yang memberikan hukuman atas aksi-aksi seperti ini. Setelah fans Celtic mengeluarkan
banyak bendera Palestina di tribun di tengah pertandingan Liga Champions tahun
lalu, UEFA memberikan mereka sanksi denda. Penyebabnya sama: UEFA melihatnya
sebagai sebuah aksi politik. Dan sepakbola, sesuai peraturan dari FIFA, badan
tertinggi sepakbola, ingin selalu menjauhkan diri dari politik.
image:
https://images.cdn.fourfourtwo.com/sites/fourfourtwo.com/files/styles/inline-image/public/celtic-fans-palestine-flags_egrilgruha4f1f164t16kpqgr.jpg?itok=OKE1WzbX
Tahun lalu, suporter Celtic memberikan dukungannya bagi Palestina. Tapi
keyakinan FIFA bahwa sepakbola harus dijauhkan dari politik ini harus kembali
kita pertanyakan setelah apa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir;
benarkah ini adalah pilihan yang ideal? Atau ini hanyalah sebuah sikap naif
para pemangku kepentingan di dunia sepakbola? Biarlah pertanyaan tersebut tetap menjadi sebuah pertanyaan, atau anda dapat memberikan opini anda erdasarkan sudut pandang yang anda pegang.
Yaps! Inilah akhir dari postan kali ini. Materi diatas diambil dari https://www.fourfourtwo.com/id/features/sepakbola-dan-politik-adalah-dua-dunia-yang-tak-bisa-dipisahkan dan https://www.kompasiana.com/yoserevela/59dd66644b0a684bc63cafb2/romansa-sepak-bola-dan-politik
Blog ini dibuat hanya bertujuan untuk menyelesaikan tugas, bila mana terdapat kekurangan . . . maafkanlah.

Komentar
Posting Komentar