Softkill 3
GALAT
( error ) pada Metode Numerik
Metode numerik merupakan suatu
metode untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika dengan menggunakan
sekumpulan aritmatik sederhana dan operasi logika pada sekumpulan bilangan atau
data numerik yang diberikan. Metode komputasi yang digunakan disebut algoritma.
Proses penyelesaiannya mungkin memerlukan puluhan bahkan sampai jutaan operasi,
tergantung pada kompleksitas masalah yang harus diselesaikan, tingkat
keakuratan yang diinginkan dan seterusnya.
Pendekatan yang digunakan dalam
metode numerik merupakan pendekatan analitis matematis. Sehingga dasar
pemikirannya tidak keluar dari dasar pemikiran analitis, hanya saja teknik
perhitungan yang mudah merupakan pertimbangan dalam pemakaian metode numerik.
Mengingat bahwa algoritma yang dikembangkan dalam metode numerik adalah
algoritma pendekatan maka dalam algoritma tersebut akan muncul istilah iterasi
yaitu pengulangan proses perhitungan. Dengan kata lain perhitungan dengan metode
numerik adalah perhitungan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk
terus-menerus memperoleh hasil yang semakin mendekati nilai penyelesaian yang
sebenarnya.
Dengan menggunakan metode
pendekatan semacam ini, tentunya setiap nilai hasil perhitungan akan mempunyai
GALAT (error) atau nilai kesalahan. Kesalahan ini penting artinya, karena
kesalahan dalam pemakaian algoritma pendekatan akan menyebabkan nilai kesalahan
yang besar, tentunya ini tidak diharapkan. Sehingga pendekatan metode numerik
selalu membahas tingkat kesalahan dan tingkat kecepatan proses yang akan
terjadi.
Masalah-masalah matematika yang
sering kita hadapi merupakan masalah matematika yang diselesaikan dengan metode
analitik atau metode sejati, yaitu suatu metode yang memberikan solusi sejati
atau solusi yang sesungguhnya, karena memiliki galat (error) yang bernilai nol.
Tetapi penyelesaian dengan menggunakan metode analitik hanya terbatas pada
masalah tertentu saja. Bila metode analitik tidak dapat lagi diterapkan, maka
solusinya masih dapat dicari yaitu dengan menggunakan metode numerik. Pada
metode numerik solusinya merupakan hampiran (pendekatan) terhadap solusi
sejati.
Ada beberapa alasan mengapa
mempelajari metode numerik, yaitu:
1) Metode numerik merupakan alat
untuk memecahkan masalah matematika yang sangat handal. Banyak permasalahan
teknik yang mustahil dapat diselesaikan secara analitik, karena kita sering
dihadapkan pada sistem-sistem persamaan yang besar, tidak linear dan cakupan
yang kompleks, dapat diselesaikan dengan metode numerik.
2) Program paket numerik, misalnya
MATLAB, MAPLE, dan sebagainya yang digunakan untuk menyelesaikan masalah
matematika dengan metode numerik dibuat oleh orang yang mempunyai dasar-dasar
teori metode numerik.
3) Banyak masalah matematika yang
tidak dapat diselesaikan dengan memakai program paket atau tidak tercakup dalam
program paket. Oleh karena itu kita perlu belajar metode numerik untuk dapat
membuat program paket (software) untuk masalah sendiri.
4) Metode numerik merupakan suatu
sarana yang efisien untuk mempelajari penggunaan komputer. Belajar pemrograman
secara efektif adalah menulis program komputer. Metode numerik mengandung
bagian yang dirancang untuk diterapkan pada komputer, misalnya membuat
algoritma.
5) Metode numerik merupakan suatu
sarana untuk lebih memahami matematika. Karena fungsi metode numerik adalah
menyederhanakan matematika yang lebih tinggi dengan operasi-operasi hitungan
dasar.
Tahap-tahap dalam menyelesaikan
masalah matematika secara numerik
dengan memakai alat bantu komputer
secara umum adalah:
1) Pemodelan
2) Pemilihan metode (algoritma)
numerik
3) Pemrograman (koding)
4) Dokumentasi
5) Penafsiran hasil.
APROKSIMASI DAN GALAT
1.1
Kekeliruan , Kesalahan perumusan dan Ketidakpastian Data
Walau sumber kesalahan di bawah ini
secara langsung tak dihubungkan dalam metode
numerik, dampak dari kesalahan ini
cukup besar.
A. Kekeliruan.
Kesalahan bruto/kekeliruan.
Tahun awal penggunaan komputer,
komputer sering kali gagal pakai (malfunction).
Sekarang kekeliruan ini dihubungkan
dengan ketidaksempurnaan manusianya.
Kekeliruan dapat
terjadi pada sembarang
langkah proses pemodelan
matematika dan dapat mengambil bagian terhadap semua
komponen kesalahan lainnya. Ia hanya dapat dicegah oleh pengetahuan yang baik
tentang prinsip dasar dan berhati-hatilah dalam melakukan pendekatan dan
mendesain solusi untuk masalah anda.
Biasanya tak dianggap dalam
pembahasan metode numerik. Ini terjadi,
karena kesalahan bruto sampai taraf tertentu tak dapat dihindari. Tapi tentu
saja pasti ada cara untuk memperbaiki keadaan ini.
Misalnya: kebiasaan
pemrograman yang baik,
seperti yang dibahas
dalam bab 2,
sangat berguna untuk mengurangi kekeliruan pemrograman. Sebagai
tambahan, terdapat juga cara-
cara sederhana
untuk memeriksa apakah
suatu metode numerik
tertentu bekerja secara sempurna.
B. Kesalahan Perumusan.
Kesalahan perumusan model
dihubungkan dengan penyimpangan yang dapat dianggap berasal dari model
matematika yang tak sempurna.
Contoh: fakta bahwa hukum Newton
kedua tak menghitung efek relativistik. Ini tak mengurangi
kelayakan solusi pada contoh
sebelumnya, karena kesalahan-kesalahan ini adalah minimal pada skala waktu dan
ruang dari seorang penerjun payung.
Anggap
bahwa tahanan udara
bukan proporsi linier
terhadap kecepatan jatuh
seperti dalam persamaan tetapi merupakan sebuah fungsi kuadrat
kecepatan. Kalau hal ini benar, baik
kedua solusi
analitis maupun numerik
yang diperoleh dalam
bab 1 hasilnya
menjadi salah
karena kesalahan perumusan.
C. Ketidakpastian Data.
Kesalahan-kesalahan seringkali
masuk ke dalam suatu analisis karena ketidakpastian data fisika yang mendasari
suatu model.
Misalnya kita ingin menguji model
penerjun payung dengan loncatan-loncatan berulang yang dibuatnya, mengukur
kecepatan orang tersebut setelah interval waktu tertentu.
Ketidakpastian yang
menyertai
pengukuran-pengukuran ini tak
diragukan, karena penerjun akan
jatuh lebih cepat
selama beberapa loncatan
daripada loncatan lainnya.
Kesalahan-
kesalahan ini dapat memunculkan
ketidak akuratan dan ketidak presisian.
Jika instrumen
kita menaksir terlalu
rendah atau terlalu
tinggi terhadap kecepatan,
kita menghadapi suatu alat yang tak akurat atau menyimpang.
Pada keadaan lainnya, jika
pengukuran tinggi dan rendah secara acak, kita akan berhadapan dengan sebuah
pertanyaan mengenai kepresisian.
Kesalahan-kesalahan pengukuran
dapat dikuantifikasikan dengan
meringkaskan data dengan
satu atau
lebih statistik yang
dipilih yang membawa
sebanyak mungkin informasi
mengenai sifat-sifat data tertentu.
Statistik yang
deskriptif ini kebanyakan
sering dipilih untuk
menyatakan (1) letak
pusat distribusi data, dan
(2) tingkat penyebaran
data. Hal demikian
memberikan suatu ukuran penyimpangan dan ketidakpresisian.
1.2
Analisis Galat
Menganalisis galat sangat penting
di dalam perhitungan yang menggunakan metode numerik. Galat berasosiasi dengan
seberapa dekat solusi hampiran terhadap solusi sejatinya. Semakin kecil
galatnya, semakin teliti solusi numerik yang didapatkan.
Nilai sejati ( true value ) =
Hampiran (aproksimasi) + Galat
Misalkan adalah nilai hampiran terhadap nilai
sejatinya a , maka selisih
disebut Galat. Jika tanda Galat (
positif atau negatif ) tidak dipertimbangkan , maka Galat mutlak
Ukuran galat kurang bermakna karena
tidak menceritakan seberapa besar galat itu dibandingkan dengan nilai
sejatinya. Untuk mengatasi interpretasi nilai galat tersebut , maka galat harus
dinormalkan terhadap nilai sejatinya. Gagasan ini melahirkan apa yang dinamakan
galat relatif.
Galat Relatif didefinisikan sebagai
Atau dalam persentase
Karena galat dinormalkan terhadap
nilai sejati, maka galat relatif tersebut dinamakan juga relatif sejati. Dalam
praktek ketika kita tidak mengetahui nilai sejati a, karena itu galat sering
dinormalkan terhadap solusi hampirannya, sehingga galat relatifnya dinamakan
galat relatif hampiran
Salah satu tantangan metode numerik
adalah menentukan taksiran galat tanpa mengetahui nilai sejatinya. Misalnya,
metode numerik tertentu memakai pendekatan secara iterasi untuk menhitung
jawaban. Dalam pendekatan yang demikian, suatu aproksimasi sekarang dibuat
berdasarkan aproksimasi sebelumnya. Proses ini dilakukan secara berulang , atau
secara iterasi dengan maksud secara beruntun menghitung aproksimasi yang lebih
dan lebih baik. Jadi, persen galat relatif :
Komputasi diulang sampai
Nilai menentukan ketelitian solusi
numerik. Semakin kecil nilai semakin teliti solusinya.
Soal
Misalkan nilai sejati = 10/3 dan
nilai hampiran = 3.333. hitunglah galat, galat mutlak, dan galat relatif
hampiran.
Prosedur iterasi sebagai
berikut r = 0, 1, 2, 3, ...
dan = 0.00001
Sumber Utama Galat Numerik
Secara umum terdapat dua sumber
utama penyebab galat dalam perhitungan numerik
Galat pembulatan ( round-off error
)
Perhitungan dengan metode numerik
hampir selalu menggunakan bilangan riil.Masalah timbul bila komputasi numerik
dikerjakan oleh mesin (dalam hal inikomputer) karena semua bilangan riil tidak
dapat disajikan secara tepat di dalamkomputer. Keterbatasan komputer dalam menyajikan
bilangan riil menghasilkangalat yang disebut galat pembulatan. Sebagai contoh
1/6 = 0.166666666… tidak dapat dinyatakan secara tepat oleh komputer karena
digit 6 panjangnya tidak terbatas. Komputer hanya mampu merepresentasikan
sejumlah digit (atau bit dalam sistem biner) saja. Bilangan riil yang
panjangnya melebihi jumlah digit (bit) yang dapat direpresentasikan oleh
komputer dibulatkan ke bilangan terdekat. Misalnya sebuah komputer hanya dapat
merepresentasikan bilangan riil dalam 6 digit angka berarti, maka representasi
bilangan 1/6 = 0.1666666666… di dalam komputer 6-digit tersebut adalah
0.166667. Galat pembulatannya adalah 1/6 – 0.166667 = -0.000000333. Contoh
dalam sistem biner misalnya
1/10 = 0.000110011001100110011
00110011…2 direpresentasikan di dalam komputer dalam jumlah bit yang terbatas.
Kebanyakan komputer digital mempunyai dua buah cara penyajian bilangan riil,
yaitu bilangan titik-tetap (fixed point) dan bilangan titik-kambang
(floatingpoint) Dalam format bilangan titik -tetap setiap bilangan disajikan
dengan jumlah tempat desimal yang tetap, misalnya 62.358, 0.013, 1.000.
Sedangkan dalam format bilangan titik-kambang setiap bilangan disajikan dengan
jumlah digit berarti yang sudah tetap, misalnya 0.6238 103 0.1714 10-13
atau ditulis juga 0.6238E+03 0.1714E-13 Digit-digit berarti di dalam format
bilangan titik-kambang disebut juga angka bena (significant figure). Konsep
angka bena dijelaskan berikut ini.
Contohnya:
43.123 memiliki 5 angka bena (yaitu
4,3,1,2,3)
0.0000012 memiliki 2 angka bena (yaitu 1,2)
270.0090 memiliki 7 angka bena (yaitu
2,7,0,0,0,9,0)
Galat Pemotongan ( truncation error
)
Galat pemotongan adalah galat yang
ditimbulkan oleh pembatasan jumlah komputasi yang digunakan pada proses metode
numerik. Banyak metode dalam metode numerik yang penurunan rumusnya menggunakan
proses iterasi yang jumlahnya tak
terhingga, sehingga untuk membatasi proses penghitungan, jumlah iterasi
dibatasi sampai langkah ke n. Hasil penghitungan sampai langkah ke n akan
menjadi hasil hampiran dan nilai penghitungan langkah n keatas akan menjadi
galat pemotongan. dalam hal ini galat pemotongan kan menjadi sangat kecil
sekali jika nilai n di perbesar. Konsekuensinya tentu saja jumlah proses
penghitungannya akan semakin banyak.
Contoh:
Gunakan deret Taylor orde 4 di
sekitar xₒ = 1 untuk menghampiri ln(0.9) dan berikan taksiran untuk galat
pemtongan maksimum yang dibuat.
Penyelesaian:
Tentukan turunan fungsi f(x) =
ln(x) terlabih dahulu
f(x) = ln(x) f(1)=0
f’(x) = 1/x f’(1)=1
f’’(x) = -1/x2 f’’(1)=-1
f’’’(x) = 2/x3 f’’’(1)=2
f(4)(x) = -6/x4 f(4)(1)=-6
f(5)(x) = 24/x5 f(5)(c)=24/c5
Deret Taylornya adalah
ln(x) = (x-1) – (x-1)2/2 + (x-1)3/3
– (x-1)4/4 + R4(x)
dan
ln(0.9) = -0.1 – (-0.1)2/2 +
(-0.1)3/3 – (-0.1)4/4 + R4(x) = -0.105358 + R4(x)
juga
Dan nilai Max |24/c5| di dalam
selang 0.9 < c < 1 adalah pada c = 0.9 (dengan mendasari pada fakta bahwa
pada suatu pecahan nilainya semakin membesar bilamana penyebut dibuat lebih
kecil). Sehingga
Jadi ln(0.9) = -0.1053583 dengan
galat pemotongan lebih kecil dari 0.0000034.
3. Galat Total
Galat akhir atau galat total atau
pada solusi numerik merupakan jumlah galat pemotongan dan galat pembulatan.
Misalnya menggunakan deret Maclaurin orde-4 untuk menghampiri cos(0.2) sebagai
berikut:
Cos(0.2) ≈ 1 – 0.22/2 + 0.24/24 ≈
0.9800667
Selain kedua galat ini, terdapat
sumber galat lain :
Galat eksperimental , galat yang
timbul dari data yang diberikan, misalnya karena kesalahan pengukuran,
ketidaktelitian alat ukur dan sebagainya.
Galat pemrograman. Galat yang
terdapat di dalam program sering dinamakan dengan bug. Dan proses penghilangan
galat dinamakan debugging.
http://imamtantowi9194.blogspot.com/2014/05/galat-error-pada-metode-numerik-numerik.html
Komentar
Posting Komentar